IMG_00000673_editOleh: Handoko Wibowo

R. Sebut saja begitu. Lelaki tampan berkumis tipis dengan tubuhnya yang atletis. Saya kenal baik dengannya. Bahkan ketika masih kecil, saya tinggal di rumah ibunya. Saya sudah dianggap anaknya sendiri.

Sayangnya, ketampanan phisiknya tidak diikuti dengan ketampanan tanggungjawabnya.

Isteri dan anak-anak balitanya ditinggal begitu saja. Mendadak si R hilang begitu saja. Tak ada yang tahu, dia pergi kemana. Sehingga akhirnya isterinya harus mengkais-kais rejeki, sendirian.

R kawin lagi dengan perempuan lain, untuk yang kesekian kalinya. Mata hatinya sudah buta. Sampai-sampai kematian anak kandungnya sendiri tidak ia ketahui.

Setelah lama menghilang, ia pulang. Kini tubuhnya renta dan terlihat sangat tua. Tak sebanding dengan umurnya. Keperkasaannya tidak ada lagi. Miskin pula.

Ia pulang hanya dengan membawa oleh-oleh dua kata: “Maafkan saya….”

Si isteri yang puluhan tahun dikhianati dan ditinggal begitu saja, tanpa dinafkahi, tentu tidak menerimanya kembali. Pintu maaf tertutup bagi orang yang tidak bertanggungjawab seperti itu. Penyesalan tidak ada manfaatnya karena waktu tidak bisa diundur kembali.

Sesal tidak punya makna.

Persis ketika dihadapan sang Khalik kita ditanya, “Apa pertanggungjawabmu dalam hidup, ketika sesamamu didepan matamu ditindas sesamanya?”

Ketika pertanyaan itu dihadapkan ke kita, tubuh sudah berkalang tanah. Semuanya terlambat sudah. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *