Permasalahan Buruh Tidak Pernah Berdiri Sendiri

Posted by
Share Button

Oleh: Kahar S. Cahyono

Selasa di pekan kemarin, saya ikut dalam pertemuan dengan management perusahaan untuk membahas tuntutan kaum buruh di pabrik yang memproduksi elastis itu. Sudah satu minggu lebih, buruh-buruh yang menjadi anggota SPAI FSPMI diperusahaan ini melakukan mogok kerja. Mereka melakukan protes atas kebijakan perusahaan yang menggunakan karyawan kontrak secara berkepanjangan dan melakukan PHK puluhan anggota serikat pekerja.

gpe

Aksi mogok kerja yang dilakukan kawan-kawan GPE

Saya tidak akan menceritakan keseluruhan dari hasil pertemuan itu. Satu hal saja. Dan itu adalah yang paling saya ingat, hingga saat ini. Yaitu ketika salah satu wakil management mengatakan, jika pekerja yang saat ini memilih untuk tetap bekerja merasa terganggu dengan aksi mogok kerja.

Kesan yang saya tangkap, pada intinya mereka hendak mengatakan, bahwa bukan pihak perusahaan yang menghendaki pekerja yang melakukan mogok kerja untuk tidak kembali bekerja di perusahaan ini. Tetapi kawan-kawannya sendiri, sesama pekerja, yang meminta agar peserta mogok kerja di PHK.

Mendengar itu, ingatan saya langsung tertuju pada apa yang pernah terjadi di PT. Ekamitra. Ketika karyawan tetap melakukan mogok kerja agar perusahaan tidak lagi menggunakan outsourcing. Di dalam, karyawan kontrak dan outsourcing membuat pernyataan yang intinya agar karyawan yang ikut mogok di PHK saja dari perusahaan.

Saat menceritakan ini kepada beberapa kawan, mereka mengatakan bahwa peristiwa seperti itu tidak hanya terjadi di dua perusahaan ini saja. Masih banyak yang lainnya. Tidak hanya terjadi di Tangerang, tetapi juga, terjadi di daerah-daerah lain.

Barangkali ini hanya cerita sederhana. Tetapi ketika tadi pagi saya membaca pemikiran Edward Lorenz tentang phrase Butterfly Effect dalam karyanya yang berjudul Chaos Theory, saya baru menyadari jika ini bukanlah sesuatu hal yang biasa. Ternyata benar, semua orang, semua keputusan, semua peristiwa, selalu memiliki koneksi dan pengaruh pada orang lain yang mengambil keputusan lain dan melahirkan peristiwa lain pula.

Buruh-buruh yang masih memilih tetap bekerja saat mogok kerja, sebenarnya juga bukan atas kemauannya sendiri. Sacara naluri, tidak ada buruh yang tidak ingin ada perbaikan di tempat kerjanya. Jika harus jujur, mereka lebih senang bekerja dengan status sebagai karyawan tetap, mendapatkan upah yang layak dan diikutkan dalam jaminan sosial.

Mereka terpaksa untuk tetap bekerja, lebih karena adanya intimidasi. Ketakutan yang berlebihan akan kehilangan pekerjaan. Adanya perasaan nggak enak, karena dulu yang membawanya bekerja di perusahaan ini adalah pihak management, dsb.

Masih ingat keputusan UMK pada akhir tahun 2012 yang lalu? DKI Jakarta dengan lantang segera memutuskan 2,2 juta, sesaat setelah UMK Bekasi tembus 2 juta. Sebelum UMK Bekasi ditetapkan, bahkan DKI Jakarta terkesan gagap untuk menetapkannya. Setelah DKI Jakarta putus 2,2 juta, giliran Tangerang dan Cilegon memutuskan angka yang sama.

Oleh karena itu, sadarilah. Bahwa hidupmu berkaitan dengan hidup orang lain. Jika kebaikan akan memberikan dampak yang baik bagi kehidupan lain di sekeliling kita, maka perbanyaklah untuk berbuat baik. Dan jika kita tahu kejahatan akan menghancurkan, maka eratkan pegangan tangan kita, untuk memberikan perlawanan.

Pada titik ini, kata ‘solidaritas’ yang sering kita serukan seharusnya bukan lagi menjadi pemanis bibir. Ia harus mewujud dalam tindakan nyata. Sekali lagi, kita tidak pernah berdiri sendiri. (*)