Aksi mogok kerja yang dilakukan PUK SPAI FSPMI PT. Gajah Putih Elastic
Aksi mogok kerja yang dilakukan PUK SPAI FSPMI PT. Gajah Putih Elastic

Sore itu, cuaca di Tangerang sedang mendung. Gerimis turun. Sementara, kami sedang melakukan evaluasi atas pelaksanaan mogok kerja yang dilakukan kawan-kawan PUK SPAI FSPMI PT. Gajah Putih Elastic. Ini hari ketiga mogok kerja. Meskipun demikian, belum ada tanda-tanda jika pihak pengusaha akan segera mengabulkan tuntutan pekerja. Kesimpulan kami sederhana: ini terjadi akibat sebagian karyawan memilih untuk tetap bekerja ketimbang menghentikan produksi.

Sikap tidak kompak itu, sudah barang tentu membelah kaum buruh menjadi dua kelompok: kita dan mereka.

Kita untuk yang memiliki idealisme dan berani mengatakan tidak untuk dieksploitasi, bekerja tanpa jaminan sosial, kontrak yang berkepanjangan, bahkan diupah dibawah upah minimum. Dan mogok kerja yang dilakukan, adalah bentuk dari keteguhan sikap karena perundingan-perundingan yang selama ini dilakukan tidak menghasilkan kesepakatan.

Sedangkan diseberang sana adalah mereka. Ini untuk pekerja yang memilih tetap bekerja. Yang – dalam istilah saya – menggadaikan masa depannya untuk sebuah ambisi: asal tetap kerja, meskipun tanpa kejelasan terhadap hak-haknya sebagai tenaga kerja.

“Diantara yang hadir disini, saya adalah orang yang paling susah.” Seorang perempuan, dengan intonasi yang tegas menyampaikan pendapatnya.

Kami semua terdiam. Karena, memang, jarang ada perempuan yang berani menyampaikan pendapatnya dalam pertemuan-pertemuan seperti ini.

Sesaat kemudian ia melanjutkan kalimatnya. “Disini saya bekerja sendirian. Harus menanggung family yang tinggal bersama saya. Memiliki anak kecil yang masih menyusu. Tapi saya tidak takut. Saya tetap ikut berjuang. Karena saya tahu, perjuangan ini untuk masa depan anak saya.”

Tepuk tangan bergemuruh.

“Saya tidak takut dipecat. Kalaupun karena aksi ini saya dipecat, itu lebih terhormat daripada harus menjadi penjilat. Sakit hati saya. Sudah belasan tahun bekerja, tetapi masih saja diperlakukan semena-mena. Karena itu, saya meminta kepada sahabat-sahabat saya yang ada diruangan ini, jangan takut. Kalian masih muda. Jangan sampai nasib kalian seperti saya. Ayo kita berjuang….”

Beberapa kawan berteriak, hidup buruh. Berulang-ulang.

Sore itu, saya kira, menjadi milik perempuan yang mengaku jauh-jauh merantau dari Medan untuk bekerja di Tangerang ini.

Tersiar kabar, perusahaan menjanjikan kepada pekerja yang tidak ikut mogok dan keluar dari keanggotaan FSPMI akan diikutkan dalam kepesertaan Jamsostek. Akan tetapi, peserta aksi tidak bergeming. Mereka tahu, kawan-kawannya yang saat ini memilih masuk bekerja akan mendapatkan Jamsostek. Tetapi jangan juga dilupakan, bahwa itu dihasilkan karena perjuangan serikat pekerja. Buktinya, jauh sebelum adanya serikat pekerja, tak sedikit pun perusahaan menyinggung soal Jamsostek.

Itu saja sudah menjadi bukti, jika perubahan bisa kita lakukan, asalkan ada gerakan. Sayang sekali, tak banyak orang yang menyadari akan hal ini.

Mereka lebih memilih untuk berada dibawah ketiak perusahaan. Tidak bersedia bergabung dalam barisan kawan-kawannya yang melawan. Bahkan mencibir. Merendahkan. Tetapi ketika perjuangan itu membuahkan hasil, tanpa rasa malu mereka mengklaim itu diperoleh atas kebaikan hati Sang Majikan.

“Perusahaan tidak rugi membayar saya. Karena selama ini saya bekerja dengan baik untuk perusahaan. Berkeringat-keringat, lebih dari sebelas tahun lamanya. Daripada membayar preman untuk menakut-nakuti orang yang mogok? Apa bisa preman itu menghidupkan mesin produksi? Bodoh sekali mereka…,” kembali, perempuan itu menebarkan semangat untuk kami semua.

Jangan pernah berfikir, bahwa perjuangan ini semata-mata untuk kita. Saya kira, anak-anak kita akan bangga ketika mengetahui bahwa orang tuanya bukan pecundang. Baru saja saya sadar, seorang pahlawan bisa muncul dan hadir dimana saja. Tanpa harus disorot kamera dan menjadi pemberitaan dilayar kaca.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *