Pemanasan mogok nasional yang dilakukan KSPI di DPR RI beberapa waktu lalu. | Sumber Foto: Kahar S. Cahyono
Pemanasan mogok nasional yang dilakukan KSPI di DPR RI beberapa waktu lalu. | Sumber Foto: Kahar S. Cahyono

Akan tiba saatnya, penyesalan itu engkau rasakan begitu menyiksa. Saat menyadari anak-anakmu memasuki dunia kerja dengan upah yang tak seberapa, dan sudah begitu statusnya outsourcing pula. Ya, dia adalah anak yang kau harapkan bisa meringankan beban hidupmu disaat tua. Tapi nyatanya, jangankan membantumu, untuknya sendiri pun masih harus nombok biaya hidupnya.

Kenangan hari ini akan terus menghantui disaat usia sudah beranjak senja: “Coba dahulu aku mendukung kaum buruh melakukan mogok nasional, pasti saat ini anak-anakku akan mendapatkan diupah dengan sangat baik sekali.” Tapi penyesalan selalu tak berguna. Tak menyelesaikan apa-apa.

Akan tiba saatnya, saat kau tak sekuat sekarang dan mulai sakit-sakitan, hanya bisa pasrah berharap keajaiban akan datang. Sementara untuk berobat ke rumah sakit, tak sedikit biaya yang dibutuhkan. Uang simpanan seumur hidup bekerja pun tak bakal cukup untuk biaya berobat atas sakitmu yang parah itu.  Rumah terjual. Tanah terjual. Seketika itu juga miskin engkau dibuatnya.

Kenangan hari ini akan terus menghantui disaat usia sudah beranjak senja: “Coba dahulu aku mendukung kaum buruh memperjuangkan jaminan sosial, bukannya malah menakut-nakuti mereka dengan berkedok menyelamatkan investasi.” Tapi penyesalan selalu tak berguna. Tak menyelesaikan apa-apa.

Tak pernah, dalam sejarah, perjuangan kaum buruh terpisah dari kepentingan masyarakat secara luas. Upah naik, harga kontrakan akan menyesuaikan. Ojeg disekitar kawasan industri menjadi ramai. Warung nasi tak pernah sepi, karena buruh tak lagi terus-terusan makan indomie.

Apalagi, selain upah, perjuangan buruh juga menyangkut hak yang paling asasi bagi setiap manusia: “kesehatan.”

Buruh hendak memastikan, per 1 Januari 2014 seluruh rakyat mendapatkan jaminan kesehatan tanpa terkecuali. Unlimited, dari lahir hingga mati. Bukankah ini sebuah karya besar? Lantas kenapa harus dihalang-halangi?

Inilah saatnya kesempatan terbaik bagi kita untuk mewujudkan itu semua. Selagi pertumbuhan ekonomi kita tinggi, selagi Indonesia menjadi negara tujuan investasi yang paling diminati. Selagi gerakan buruh semakin menguat dan berani berteriak lantang untuk memperjuangkan hak-hak rakyat.

Jangan dihalang-halangi. Tak mungkin investor kabur keluar negeri. Lagian mau kemana mereka lari? Toh diluar sana upah buruh jauh lebih tinggi daripada disini.

Akan tiba hari, kalian akan membutuhkan apa yang mereka perjuangan saat ini. Mari bergabung dan mendukung pemogokan nasional. Jangan menyesal nanti…. (Kascey)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *