Buruh Purwakarta melakukan aksi mogok daerah. Rabu, 28 Oktober 2015 | Foto: Dimas Nur Utami

Buruh Purwakarta melakukan aksi mogok daerah. Rabu, 28 Oktober 2015 | Foto: Dimas Nur Utami

 

Penting bagi kita untuk memberikan ucapan terima kasih kepada buruh Purwakarta yang telah berhasil melakukan mogok daerah. Mereka berhasil mematahkan anggapan banyak orang, bahwa buruh sudah tidak lagi memiliki kemampuan untuk melakukan hal sedahsyat itu: tutup kawasan dan melumpukan perekonomian.

Kita tahu, tidak terlalu sulit menutup kawasan industri. Dengan beberapa orang pun jadi. Yang sulit adalah mengalahkan ketakutan, kekhawatiran, juga segala resiko yang terus menghantui sepanjang aksi berlangsung.

Tetapi buruh Purwakarta berhasil melakukannya. Dan kalau Purwakarta saja bisa, maka kita percaya, daerah-daerah yang lain pun mampu melakukannya.

Seperti biasa, keberanian akan berlipat ganda. Menulari yang lainnya. Beberapa daerah bahkan terang-terangan mengaku terinspirasi dan tertantang untuk melakukan hal serupa. Lebih dahsyat. Lebih hebat.

Bogor, misalnya. Hari ini, Kamis 29 Oktober 2015 mereka juga melakukan aksi yang sama. Mereka keluar dari pabrik-pabrik dengan satu tuntutan pasti: “Batalkan PP No 78 Tahun 2015!”

Perlawanan terhadap PP No. 78 tahun 2015 tentang Pengupahan terus terjadi dan semakin membesar. Tak peduli siang, tak peduli malam, perlawanan itu terus dilakukan. Sesuatu yang membuat kita semakin bersemangat dalam berjuang. Tak peduli, meski Pemerintah menyatakan tidak akan pernah mencabut PP Pengupahan.

Besok, 30 Oktober 2015 menjadi semacam pembuktian. Hampir seluruh serikat pekerja telah sepakat untuk melakukan aksi besar di depan Istana Negara. Aksi yang lain dari biasanya. Karena, kali ini, kita tidak akan pulang sebelum menang.

Mungkin kita akan dipukul mundur. Bahkan, bisa jadi akan ada korban yang jatuh. Tidak apa-apa. Karena kita percaya, keberanian akan berlipat ganda. Setelah ini, buruh di seluruh Indonesia akan bergerak, serentak, untuk melakukan pelawanan terhadap kebijakan yang kita anggap salah kaprah.

Dan berikut ini adalah rangkaian selanjutnya, apabila aksi kepung Istana pada 30 Oktober 2015 tidak didengar.

Tanggal 2 – 10 November 2015, buruh Indonesia akan melakukan aksi dan mogok daerah. Selain itu, kita juga akan melakukan kampanye perlawanan melalui parade/konvoi lintas daerah: NTB – Bali – Jawa. Serta long march jalan kaki Bandung – Jakarta.

Jika ini masih belum didengar, buruh Indonesia akan melakukan mogok nasional dengan melumpuhkan kawasan-kawasan industri, pelabuhan, jalan tol dan bandara pada 18 – 20 November 2015. (*)