mustofa

Ada yang bilang, semua serikat pekerja adalah sama.

Barangkali, saya adalah salah satu yang menentang pernyataan itu. Jika semua serikat sama, buat apa ada KSPI, KSPSI, KSBSI, atau KASBI? Mungkin dalam hal cita-cita ada beberapa kesamaannya, tetapi secara keseluruhan, pasti ada yang berbeda.

Saya bisa berbicara seperti ini, karena sebelum bergabung dengan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), saya pernah merasakan menjadi anggota serikat pekerja lain. Jadi saya tahu persis dimana letak perbedaannya.

Tentang perbedaan itu, tidak akan saya ceritakan disini. Saya lebih tertarik untuk berbicara tentang awal mula saya bergabung serikat kebanggan kita, FSPMI.

Sebelum bergabung dengan FSPMI, dari tahun 2003 hingga 2010, sebenarnya di tempat kami bekerja, PT TEC Indonesia, sudah ada Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI). Jumlah anggota SPSI ketika itu, kurang lebih sebanyak 500 orang. Meskipun bukan menjadi pengurus, saya ikut berpartisipasi aktif didalam serikat ini.

Pada dasarnya, saya memang suka berorganisasi. Jadi begitu saya mendengar ada organisasi serikat pekerja di perusahaan, saya bergabung dan terlibat aktif didalamnya. Apalagi, sudah menjadi naluri saya, untuk bisa terlibat dan menjadi bagian kecil dari sebuah perubahan. Hidup harus berarti. Saya akan merasa rugi, jika hanya menjadi penonton. Apalagi jika menjadi menitipkan nasib. Saya harus ikut berpartisipasi dalam perubahan (kearah yang lebih baik).

Memasuki tahun 2009, serikat pekerja SPSI di PT. TEC Indonesia mulai mati suri. Tidak ada kegiatan sama sekali.

Dari kefakuman itulah muncul ide gila dari kami, yang kemudian disetujui kawan-kawan, untuk pindah ‘rumah pergerakan’. Untuk mewujudkannya, kami membentuk tim yang tugasnya mencari rumah baru itu. Sebuah organisasi serikat pekerja, yang memang sesuai dengan semangat kawan-kawan di PT. TEC Indonesia. Saya terpilih sebagai salah satu anggota tim yang bertugas mencari organisasi baru itu.

Di Batam, saat itu hanya ada 3 Federasi Serikat Pekerja: FSPSI, FSPMI, dan FSBSI.

Setelah berdiskusi dan menimbang kekurangan dan kelebihan, akhirnya kami menjatuhkan pilihan ke FSPMI.

Namun pilihan ini sedikit bermasalah. Permasalahannya adalah, disaat kita sudah menentukan akan berpindah dari SPSI ke FSPMI, kami kesulitan untuk bertemu dengan perangkat organisasi ditingkat cabang. Mulailah kegaluan melanda, karena kami tidak tahu bagaimana cara dan melalui siapa untuk masuk bergabung dengan FSPMI.

Tetapi kemudian Allah SWT memberikan jalan.

Selesai sholat Magrib di masjid yang terdapat dilingkungan perumahan tempat saya tinggal,  seperti biasa saya ngobrol dengan tetangga sekitar perumahan. Obrolan kami tentang apa saja, salah satunya adalah terkait dengan aktivitas sehari-hari di perusahaan. Dalam obrolan itu  saya bercerita ke tetangga, tentang masalah saya, yang ingin berpindah dari SPSI ke FSPMI.

Tanpa diduga, ternyata tetangga yang ngobrol dengan saya ini adalah pengurus DPW FSPMI dan Ketua PUK FSPMI PT. Panasonic, yaitu Bung Yusni dan Bung Robiana. Gayung pun bersambut. Tak butuh waktu lama, dengan difasilitasi beliau berdua inilah, kami diundang  untuk datang ke Kantor FSPMI Batam.

Keesokan harinya, tim kami datang ke kantor FSPMI Batam. Kami diterima oleh Bung Alpian dan Bung Nurhamli. Disitu dijelaskan semua syarat-syarat untuk masuk menjadi bagian dari FSPMI, dimana salah satu syarat yaitu  harus mundur dari serikat yang lama sebelum masuk ke FSPMI.

Hasil dari pertemuan ini kami sampaikan ke kawan-kawan PT. TEC Indonesia. Sebelum kita putuskan pindah  ke FSPMI, kita sudah sepakati hanya akan ada satu serikat saja diperusaaan ini, agak bisa maksimal dalam perjuangan.

Oleh karena itu, serikat yang lama kita tutup dan seluruh pengurus dan anggota secara resmi mundur dari SPSI dan masuk ke FSPMI. Saat itu Tahun 2010, ketika secara resmi kami mendapatkan SK dan Pencatata dari Disnaker. Saya mendapatkan amanah untuk menjadi Ketua PUK pertama di PUK FSPMI  PT TEC Indonesia.

Alhamdulilah, sampai hari ini anggota kami mencapai 1450 anggota. Capain paling penting ditingkat perusahaan adalah terbentuknya PKB (perjanjian kerja bersama), yang isinya sudah bisa dinikmati oleh anggota dan keluarganya.

Saya percaya, perubahan itu membutuhkan keberanian. Jika saja saat itu kami pasrah ada keadaan dan hanya mempertahankan yang ada, capaian besar yang sekarang kami dapatkan belum tentu ada.

Keputusan organisasi untuk merekomendasikan kader terbaiknya sebagai caleg dalam pemilu 2014, bagi saya juga merupakan bentuk keberanian. Keberanian itu, saya percaya, akan membuat organisasi semakin besar dan mampu memberikan konstribusi untuk mewujudkan cita-cita sebagai sebuah bangsa yang merdekat dan berdaulat. (Kascey)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *