1185495_712641408751429_1020507285_nAku sedang berada di Cisarua, saat Herveen memberitahukan melalui grup whatShap tim media, jika dirimu sedang diseret dan dipukuli oleh Polisi. Beberapa saat kemudian, foto-foto dan video kejadian dikirimkan. Tanganku gemetar. Entah mengapa, aku yang biasanya lancar menulis, hari itu mendadak kehilangan kemampuan itu. Bahkan sekedar untuk mengutuk perilaku jahiliah yang tak pantas dilakukan oleh mereka yang menyandang gelar aparat keamanan.

Rumput Teki – begitu engkau menulis nama profil dalam facebookmu – sebagai sahabat, aku adalah bagian dari dirimu. Ikut merasakan sakit yang kau rasakan. Marah melihat kemanusiaanmu dilecehkan. Banyak orang masih membicarakan dan mengutuk keras peristiwa itu, hingga hari ini. Bersamamu ingin membuktikan bahwa keadilan masih ada di bumi pertiwi, tempat jiwa dan ragamu engkau pertaruhkan.

“Nama saya M. Nur Fahroji. Pengurus Pimpinan Cabang Serikat Pekerja Aneka Industri Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (PC SPAI FSPMI) Kabupaten/Kota Bekasi, Bidang II (Pembelaan dan Advokasi).” Engkau memperkenalkan diri, saat menceritakan kronologis kejadian di hari Kamis kelabu itu. Saat itu tanggal 26 September 2013. Bertepatan dengan hari ke-14 mogok kerja yang dilakukan PUK SPAI FSPMI PT. Kalbe Farma Tbk yang beralamat di Kawasan Industri Delta silicon I Lippo Cikarang.

Engkau bercerita dengan runut. Dimana pada saat itu di PT. Kalbe Farma banyak polisi yang datang. Meskipun merasakan ada sesuatu yang ganjil dihari ini, engkau tetap tidak bisa memastikan apa yang akan terjadi setelah ini. Sebagai tim perunding yang bertugas menyelesaikan perselisihan ketenagakerjaan di perusahaan ternama itu, fokus dan perhatianmu lebih tertuju pada materi perundingan itu sendiri.

“Pagi hari, sekitar pukul 06.30 Wib, ada preman yang mendatangi pekerja Kalbe Farma Tbk yang sedang melakukan mogok kerja dan mengancam pekerja agar merobohkan tenda perjuangan. Ketika kejadian itu, aparat kepolisian hanya melihat tanpa mengusir preman-preman yang notabanenya tidak ada urusannya dengan masalah ketenagakerjaan. Baru sekitar pukul 08.30, setelah tenda perjuangan dirobohkan, para preman meninggalkan tempat mogok kerja.”

Kita semua paham, mogok kerja adalah hak pekerja yang dilindungi undang-undang. Kehadiran pihak kepolisian, mestinya adalah untuk memastikan pelaksanaan mogok kerja itu berjalan aman tanpa adanya intimidasi dan gangguan dari pihak lain. Jika kemudian polisi mendiamkan para preman yang memaksa pekerja membongkar tenda perjuangan, patut diduga, polisi pun bersengkokol didalamnya.

“Saya tiba di Pintu II PT. Kalbe Farma sekitar pukul 11.30,” ujarmu. Sambil menerawang kedepan, engkau melanjutkan cerita getir dihari itu. “Setelah sampai di Pintu II PT. Kalbe Farma, Kapolsek Cikarang Selatan AKP. Badari menemui saya dan meminta agar pengiriman produk Kalbe Farma kepasaran jangan dihalang-halangi. Mendengar permintaan itu, saya sampaikan kepada AKP. Badari bahwa sudah ada kesepahaman antara Tim Perunding dengan Manajemen PT. Kalbe Farma Tbk agar pekerja yang ingin bekerja tidak dihalang-halangi. Begitu juga sebaliknya, produk yang dihasilkan tidak boleh ada yang keluar dari perusahaan.”

Barangkali kalimat AKP. Badari selanjutnya, tak pernah engkau duga sebelumnya. Kapolsek Cikarang Selatan itu menyampaikan kepadamu, yang pada intinya menyatakan jika dia ditekan oleh Kapolresta Bekasi Kombes Isnaini agar pengiriman produk Kalbe Farma harus bisa dilakukan. Engkau jelaskan kepada AKP. Badari, bahwa hari ini tanggal 26 September 2013 jam 14.00 Wib akan ada perundingan lanjutan antara Tim Perunding FSPMI dengan Tim Perunding PT. Kalbe Farma Tbk.Tidak hanya Kapolsek Cikarang Barat.

Hari itu engkau juga didatangi oleh Kabagop Polresta Bekasi Kompol Muryono dan menanyakan mengapa produk kalbe farma tidak boleh keluar. Kepada Kabagop Kompol Muryono saya jelaskan, bahwa sudah ada kesepahaman antara Tim Perunding dengan Manajemen PT. Kalbe Farma Tbk agar pekerja yang ingin bekerja tidak akan di halang-halangi dan pengiriman produk kalbe farma tidak ada yang keluar.

“Pukul 01.30 Wib saya meninggalkan PT. Kalbe Farma Tbk menuju tempat perundingan di Hotel Zurrie Expres Lippo Cikarang yang berjarak ± 2 KM dari perusahaan Kalbe Farma. Perundingan dimulai sekitar pukul 02.00 Wib, dimana dalam perundingan tersebut tinggal beberapa pasal yang belum menemukan kesepakatan.”Tragis.

Disaat perundingan sedang terjadi, sekitar pukul 17.30 pihak kepolisian memaksa pengiriman produk kalbe farma keluar dari perusahaan. Kepolisian menyeret dan menembakkan gas air mata ke ibu-ibu pekerja PT. Kalbe Farma, Tbk yang sedang melakukan aksi mogok kerja agar tidak berada di pintu gerbang pintu II PT. Kalbe Farma agar mobil pengiriman bias keluar.

Mendapat informasi itu, pukul 18.30 engkau meninggalkan tempat perundingan dan segera menuju Pintu II PT. Kalbe Farma.  Sesampainya disana, engkau menanyakan kepada Kapolsek Cikarang Selatan AKP. Badari dan Kabagop Polresta Bekasi Kompol Muryono, mengapa membuat suasana tidak kondusif dan memaksakan pengiriman produk. Padahal perundingan sedang berjalan dan hanya beberapa pasal saja yang sebentar lagi selesai.

Tetapi sayang, protesmu itu tak ditanggapi. Sebaliknya, sekitar pukul 18.45 Wib Kabagop Kompol Muryono menyampaikan kepada pekerja yang sedang mogok kerja untuk membubarkan diri. Terhadap himbauan itu, engkau mengatakan kepada Kabagop Kompol Muryono bahwa ini adalah mogok kerja, bukan unjuk rasa.

Selanjutnya, terjadilah tragedi kemanusiaan itu. Tepat pukul 19.00 Wib Kompol Muryono dan Kapolsek AKP Badari memerintahkan kepada pasukannya untuk membubarkan peserta mogok kerja, yang saat itu sedang dalam posisi duduk.

“Dalam pembubaran itu saya yang sedang duduk ditarik kedalam area PT. Kalbe Farma bersama 2 orang anggota FSPMI yang lain. Didalam Area PT. Kalbe Farma kami bertiga telah mengalami penganiayaan. Kami di seret, di pukuli, ditendang, di injak-injak ke seluruh tubuh, bahkan kaki saya di sundut rokok. Mereka juga melakukan pengroyokan kepada kami bertiga. Disana kami dianiaya oleh puluhan bahkan ratusan pihak kepolisian.

Karena ketika dipukul saya tidak mengeluarkan darah, mereka menganggap saya memiliki ilmu kebal. Salah satu dari mereka mengambil cincin yang saya kenakan. Tidak cukup dengan melakukan pencurian, mereka juga melakukan pelecehan. Karena setelah cincin saya dicopot dan saya masih tidak terluka, kembali salah satu polisi membuka celana panjang dan celana dalam yang saya kenakan. Mereka menginjak kemaluan saya, bahkan memfoto saya dalam keadaan telanjang. Handphone Blackberry Dakota saya yang berada di kantong celana sebelah kiri pun telah lenyap.

Selama kejadian itu saya menutup mata dan tidak pernah berhenti melafadzkan Laillahhaillallah…

Sekitar pukul 22.30 saya didatangi dan dibangunkan oleh Kasad Intel Polresta Bekasi Arry dan menyampaikan akan datang Pimpinan Pusat SPAI FSPMI Obon Tabroni dan rekan-rekan Garda Metal FSPMI.”

Hingga akhirnya, sekitar pukul 23.00 Bung Obon Tabroni dan rekan-rekan Garda Metal datang dan segera membawamu beserta dua rekan yang lain keluar dari area kalbe farma menuju Rumah Sakit. Saya kira bukan hanya engkau. Setiap manusia waras yang mendengar ceritamu ini pasti akan meminta keadilan yang seadil-adilnya. Kami hendak memastikan, pelaporan tindak pidana yang sudah kau sampaikan, akan ditindaklanjuti hingga ke meja pengadilan! (Kascey)

Categories: Opini

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *