Seorang anggota FSPMI nampak sedang memainkan handphone didepan poster yang bertuliskan 'diam tertindas atau bangkit melawan'.

Seorang anggota FSPMI  (Garda Metal) nampak sedang memainkan handphone didepan poster yang bertuliskan ‘diam tertindas atau bangkit melawan’ yang tertempel di depan pintu gerbang perusahaan.

 

Setelah perundingan demi perundingan berjalan tanpa kesepakatan, akhirnya mereka melakukan pemogokan. Senin, 10 Maret 2014, tercatat sebagai hari pertama mereka mogok kerja. Seperti sudah kehilangan kesabaran, buruh di perusahaan Roxy itu memilih untuk meninggalkan mesin-mesin produksi. Kerja dan keringat mereka tak dihargai.

Bulan Maret juga sekaligus menandai bulan ketiga pelaksanaan UMK 2014 yang berlaku mulai 1 Januari. Jauh sebelumnya, sejak Desember 2013, serikat pekerja di perusahaan yang berokasi di Kawasan Industri Jatake – Tangerang ini sesungguhnya sudah mengajak Pengusaha untuk merundingkan upah. Tetapi hasilnya tetap saja nihil.

Sempat ada harapan, Pengusaha bersedia membayar upah sesuai dengan ketentuan upah minimum untuk karyawan tetap. Sementara untuk karyawan kontrak, masih berlaku upah lama. Tidak ada kenaikan.  Pernyataan ini disampaikan pihak HRD. Tetapi serikat pekerja menolaknya.

Semua pekerja berhak mendapatkan upah minimum. Tak peduli apa pun statusnya.  Jika Pengusaha bisa seenaknya membayar buruh kontrak dengan upah dibawah upah minimum dan kemudian karyawan tetap mendiamkan, itu artinya satu saat nati Pengusaha juga bisa memberlakukan upah rendah di perusahaan ini. Menyadari hal itu, serikat pekerja melakukan perlawanan. Apalagi, disini, karyawan tetap dan kontrak juga bergabung dengan serikat pekerja. Kekompakan mereka terjaga.

Belakangan ada isu, jika perusahaan ingin melakuan penundaan kenaikan upah dengan melakukan penangguhan seperti yang terjadi di tahun 2013 lalu. Tahun 2013, perusahaan ini memang melakukan penangguhan dengan tetap membayar upah lama selama 3 bulan. Tetapi di tahun 2014 ini, bukan lagi 3 bulan yang diminta. Pengusaha meminta tetap membayar upah lama selama 12 bulan. Tanpa kenaikan sepersen pun.

Alasannya klasik. Oder turun. Disamping itu, menurut Pengusaha, upah Pekerja sudah sangat tinggi. Jika ditotal dengan tunjangan transport, makan, dan kehadiran, totalnya mencapai 2,7 juta. Itu sudah jauh melebihi nominal upah minimum 2014 yang hanya sebesar Rp. 2.442.000,-.

Pekerja tak bergeming. Baginya, upah adalah gaji pokok dan tunjangan yang bersifat tetap. Sementara tunjangan tidak tetap seperti uang transport, makan, dan kehadiran adalah tunjangan tidak tetap. Dan lagi pula, menjadi sebuah keharusan upah buruh yang sudah berkeluarga dan memiliki masa kerja diatas satu tahun besarnya diatas UMK. Sesuatu yang sudah diberikan tak dapat ditarik kembali. Bagaimana mungkin uang transport dan makan yang sudah diberikan selama bertahun-tahun itu akan dihilangkan hanya untuk memenuhi ketentuan normatif? Buruh menolak keras!

Sebelum melayangkan surat  pemberitahuan mogok kerja, pengurus PC SPAI FSPMI Tangerang datang ke perusahaan. Maksudnya ingin meminta kejelasan terkait dengan sikap perusahaan terkait upah. Lagi-lagi, Pengusaha bersikukuh tidak bersedia menaikkan upah.

Tak ada pilihan lain. Surat mogok kerja pun dilayangkan.

Serikat pekerja berhasil menyakinkan seluruh karyawan untuk melakukan pemogokan. Dari jumlah karyawan sekitar 180 orang, seluruhnya ikut mogok kerja. Padahal anggota serikat pekerja yang ada di perusahaan ini tak lebih dari 100 orang. Mereka percaya, mogok bukan semata-mata kepentingan buruh yang menjadi anggota serikat pekerja. Mogok adalah kepentingan seluruh orang yang bekerja.

Dan meskipun dihari pertama mogok kerja terjadi perundingan yang difasilitasi oleh Pengawai Pengawas dan Mediator dari Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Tangerang, namun tidak menghasilkan kesepakatan.

Tim perundingan yang mewakili pihak pekerja merasa jika perundingan tak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Padahal masalah upah minimum adalah sesuatu yang tak perlu dirundingkan kembali. Harus dijalankan. Tetapi didalam perundingan ini justru pihak pekerja seperti ditekan untuk mau mengerti keinginan pengusaha yang tak bersedia menaikkan upah. Seolah buruh yang harus mengerti akan kondisi perusahaan. Sedangkan pihak Pengusaha boleh abai terhadap kepentingan karyawan.

Upah minimum bukan untuk dirundingkan. Harus dijalankan. Tegas dinyatakan dalam Undang-undang, barangsiapa yang membayar upah lebih rendah dari upah minimum adalah pelanggaran pidana. Dan itu masuk dalam kategori pidana kejahatan dengan ancaman kurungan hingga 4 tahun penjara. Juga denda antara 100 – 400 juta.

Dan pada akhirnya, ini adalah seruan bagi semua, untuk memperlakukan siapa saja yang membayar upah lebih rendah dari upah minimum sebagai penjahat! Bagaimana? (Kascey)

Categories: Aksi

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *