Ketua Umum Perhimpunan Persahabatan Indonesia Jepang
Ketua Umum Perhimpunan Persahabatan Indonesia Jepang Rahmat Gobel (kiri)

Untuk menambah wawasan, ada satu agenda menarik didalam Rakernas. Apalagi kalau bukan seminar dan dialog motivasi yang bertajuk, perspesktif dan tantangan dunia usaha.

Bertindak sebagai moderator, Suhadmadi menyampaikan, melalui seminar ini kita ingin mendapatkan beberapa pandangan terkait dengan image yang berkembang saat ini: industri elektronik tidaklah sebagus industri otomotaif.

Bagaimana perspesktif industri elektronik kedepan? Apa kaitan situasi politik yang berkembang saat ini terhadap dunia usaha?

Pemahaman seperti itu menjadi penting. Apalagi Rakernas ini dihadiri oleh para pemimpin SPEE FSPMI yang terdapat di 25 wilayah diseluruh Indonesia. Mereka hadir disini untuk membuat keputusan strategis bagi organisasi. Setidaknya dalam kurun waktu satu tahun yang akan datang.

Suhadmadi berharap, SPEE FSPMI bisa menerjemahkan apa yang akan disampaikan oleh pembicara tunggal dalam seminar ini, Rahmat Gobel. Sehingga nantinya kita bisa membuat sebuah kebijakan yang komprehensif untuk mengantisipasi perkembangan terkini dari dunia industri.

Dalam seminar, Rahmat Gobel memang hadir sebagai pembicara. Kehadirannya adalah dalam kapasitas sebagai Ketua Umum Perhimpunan Persahabatan Indonesia Jepang.

“Saya melihat, kalau tempat acaranya di hotel seperti ini, berarti buruh sudah sejahtera,” kata Rahmat, diawal pemaparannya.

Bagi pengusaha yang bergerak dibidang elektronik ini, demo buruh untuk menuntut kesejahteraan itu adalah sesuatu yang wajar. Tetapi yang tidak boleh dilakukan adalah demo untuk memaksa perusahaan tutup. Demo semacam ini tidak benar. Jika buruh melakukan ini, maka pengusaha pasti akan berusaha untuk membela diri agar perusahaannya tidak ‘mati’.

Rahmat menilai, serikat pekerja adalah wadah yang bisa diajak untuk bertukar pikiran. Sebuah organisasi yang memang didirikan untuk menampung aspirasi para karyawan. Melalui mereka pengusaha bisa berdiskusi untuk mencari jalan keluar dari berbagai permasalahan.

Sebagai pimpinan perusahaan elektronika, menurut Rahmat, Indonesia berada dalam posisi yang sangat berat. Kalau pun saat ini ada pengusaha yang menanam investasinya ke Indonesia, itu karena pengusaha tersebut hanya berbicara dalam jangka pendek. Padahal kalau kita berbicara industri, seharunya jangka panjang.

“Saat ini yang ada di Indonesia hanya pabrik. Bukan industri.” Kata Rahmat Gobel.

Kalau kita berbicara industri, banyak hal yang harus kita lakukan. Misalnya melakukan pengembangan SDM, pengembangan produk, memiliki R&D, serta melakukan pengembangan industri komponen pendukungnya di Indonesia. Sehingga akan menghasilkan peningkatan kualitas, efisiensi dan peningkatan produktivitas. Kalau yang dibangun hanya pabrik, maka tidak akan memberikan perubahan apa-apa.

Menurut Rahmat, industri elektronik-elektrik membutuhkan tiga hal itu: kualitas, efisiensi dan produktivitas.

Menurutnya, saat ini hanya perusahaan-perusahaan Jepang yang serius melakukan pengembangan SDM, produk, dan membangun supporting industrialnya di Indonesia. Sementara negara-negara seperti Cina hanya melakukan perubahan merk di Indonesia. Kalau pun ada pabrik, itu hanya assembling kecil-kecilan.

Kalau dibandingkan dengan Cina yang sekarang, sulit bagi Indonesia akan berkembang. Di Cina, dalam satu pabrik saja sudah bisa memproduksi lebih dari 1 juta per bulan. Apalagi mereka didukung oleh pasar yang besar yang harganya berbeda 50% hingga 60%. Jika produktivitas dan kualitas tidak ditingkatkan, rasanya kita akan kesulitan bertarung dengan Cina. Belum lagi, dalam waktu yang tidak terlalu lama kita akan memasuki Asean Community. Itu pun hanya akan mempersulit kita sendiri.

Ini ancaman yang ada didepan mata.

Rahmat berharap, pemerintah akan menghadang pasar bebas dengan menerapkan Standar Nasional Indonesia dengan lebih ketat. “Agar kita bisa memperlambat arus masuk mereka ke Indonesia. Jangan sampai mereka hanya memanfaatkan Indonesia sebagai pasar bagi produk mereka,” katanya.

SNI harus diterapkan. Baru kemudian industrinya dibina. Kalau tidak ada standar, jangan pernah bermimpi akan ada industri elektronik elektrik yang kuat di negeri ini. Bisa jadi, negeri ini hanya akan menjadi “sampah” produk luar.

Bagi Rahmat Gobel, industri itu adalah tempat untuk pengembangan sumber daya manusia. Tempat untuk membangun Indonesia.

Industri bukan tempat untuk memperjakan manusia.

Seperti itulah seharusnya memposisikan kaum buruh.

Dalam mengundang investor, seharusnya orientasi Pemerintah tidak hanya menyediakan lapaangan kerja. Maka wajar jika yang dipakai adalah pekerja murah. Asal kerja. Seharusnya visi pemerintah ketika mengundang investor adalah untuk membangun SDM.

Didalam pabrik diajarkan tentang 5 K: Ketertiban, Kerapian, Kebersihan, Kelestarian dan Kedisiplinan.

Menurut Rahmat, 5 K adalah dasar yang harus dimiliki kalau kita mau berbicara alih teknologi di Indonesia.

Adapun proses alih teknologi adalah sebagai berikut. Pertama, alih pekerjaan. Yang semula dibuat di Jepang, misalnya, pindah di Indonesia. Dikerjakan oleh orang Indonesia. Setelah itu, alih pengetahuan, tentang bagaimana kita membuat itu semua. Baru kemudian alih teknologi.

Karena itu, harus ada 5 K yang dilakukan. Dan sebetulnya alih teknologi itu bisa dilakukan oleh karyawan di pabrik, bukan di level management. Buruh lah yang sangat memahami, bagaimana sebuah produk dibuat. Sehari-hari mereka melakukan itu. Mereka yang bekerja, mereka lah yang tahu bagaimana proses produksi itu.

“Inilah sebabnya, dari dulu saya paling tidak setuju dengan outsourcing,” kata Rahmat Gobel tegas. Alasannya, dengan menggunakan buruh outsourcing, kita tidak akan mungkin bisa melakukan alih teknologi. Mengapa demikian? Karena awal dari pengembangan teknologi terletak pada line produksi, bukan di engginering yang diatas. Yang diatas hanya menyempurnakan. “Kalau sistem ketenagakerjaan seperti ini (menggunakan outsourcing), tidak akan pernah mudah kalau kita berbicara tentang alih teknologi,” lanjutnya.

Rahmat Gobel mengajak peserta Rakernas untuk membangun negara ini. Apalagi, bangsa ini telah kehilangan satu tahun untuk menyiapkan masyatakat Asean Community akibat sibuk dengan pemilu.

Rahmat menuturkan, di perusahaannya, ketika setiap ada orang Jepang datang, maka harus ada hal baru yang dipelajari oleh pekerja Indonesia. Ukuran kinerja orang Jepang yang datang ke Indonesia adalah tentang seberapa besar dia mentransfer pengetahuan. Beberapa pekerjaan harus mulai dikerjakan oleh orang Indonesia. Kalau mereka menganggap orang Indonesia tidak mampu, tanggung jawabanya adalah memberi tahu agar mampu.

“Ketika orang tua saya meninggal, dan usia saya masih 22 tahun, saya juga dibilang tidak mampu,” kata Rahmat. Tetapi justru karena saya dibilang tidak mampu, Anda harus melengkapi. Sehingga kita akan menjadi semakin lebih baik lagi.

Ketika menjadi ketua serikat pekerja, demikian Rahmat mengatakan, jangan hanya bisa teriak-teriak. Bangun diri anda untuk membangun. Jadilah pengusaha. Agar anda tahu susahnya mengatur karyawan.

Leadership harus dibangun. Sebagai orang yang dipercaya menjadi pemimpin, banyak gal yang bisa dilakukan didalam pabrik. Sehingga kita bisa berkontribusi untuk menyempurnakan kesejahteraan bangsa ini. Bukan hanya untuk karyawan. Karena jika hanya buruh, kita akan berfikir sempit. Kesejahteraan yang lebih besar adalah kesejahteraan untuk seluruh rakyat. (Kascey)

(Bersambung)

Ini adalah catatan serial saat Tim Media FSPMI mengikuti Rakernas SPEE FSPMI di Batam dan Singapura, 19 ~ 22 April 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *