Melawan Kriminalisasi

Mereka bukan kriminal, tapi dikriminalisasi.
Mereka bukan kriminal, tapi dikriminalisasi.

Besok, hari Kamis tanggal 25 Februari 2016, FSPMI berencana  menurunkan sedikitnya 1.700 orang buruh dalam aksi di Kejati DKI Jakarta dan Polda Metro Jaya. Tidak hanya FSPMI, aksi ini juga akan diikuti berbagai element serikat pekerja yang tergabung dalam Gerakan Buruh Indonesia (GBI), sebagai bentuk perlawanan kaum buruh terhadap kriminalisasi terhadap gerakan yang vokal mengkritik pemerintah.

Seperti diketahui, dalam aksi menolak PP Pengupahan tanggal 30 Oktober 2015 di Istana Negara, terdapat 26 orang yang dijadikan tersangka. Dimana 7 orang dianntaranya adalah aktivis FSPMI: Pujo, Agus Sulistio, Ricky Fauji, Ningpuno, Ahmad Novel, Jarot, dan Lasmin. Mereka bukanlah kriminal, tetapi dikriminalisasi dengan pasal-pasal karet yang seenaknya digunakan untuk kepentingan penguasa.

Lebih dari sekedar menolak kriminalisasi. Aksi ini juga menjadi semacam cara untuk menyelamatkan demokrasi. Selain cara-cara represif yang digunakan, di berbagai daerah aksi demontrasi juga semakin dibatasi. Seperti baru-baru ini, ada wacana pembatasan demo di Batam dan tembak ditempat bagi demonstran yang anarkis.

Padahal, demo adalah salah satu cara penyampaian pendapat di muka umum yang dijamin konstitusi. Sah menurut hukum.

#KamiTidakTakut, beginilah respon kalangan aktivis buruh di media sosial menanggapi sikap rezim yang semakin represif. Bahkan, ketika dilimpahkan dari Polda ke Kejati, para tersangka mengikatkan merah putih di kepala dengan bertuliskan: Kami Tidak Takut.

Selain menegaskan akan melakukan aksi-aksi untuk melawan kebijakan ini, buruh juga akan melaporkan kekerasan yang dilakukan aparat ke pihak-pihak terkait, nasional maupun internasional.

Apakah aksi melawan kriminalisasi akan mengalihkan fokus perjuangan buruh terhadap PP Pengupahan? Tentu saja tidak! FSPMI berjanji, sebelum PP itu dicabut, perlawanan akan terus dilakukan. Bahkan, jika nantinya kasus kriminalisasi ini berlanjut ke pengadilan, dalam setiap persidangan, buruh akan selalu melakukan aksi sebagai bentuk perlawanan. (Tim)