IMG_00000664Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) menganggap manajemen komunikasi dan komunikasi di internal organisasi merupakan salah satu yang perlu dibenahi. Oleh karena itu, permasalahan komunikasi menjadi salah satu yang menjadi prioritas untuk dibahas dalam Rapat Konsolidasi Nasional Organisasi FSPMI yang diselenggarakan di Cisarua – Bogor pada tanggal 22 – 24 Agustus 2013.

“Saat ini saya melihat, sistem komunikasi belum menjadi bagian yang penting dalam organisasi kita,” ujar Wakil Presiden DPP FSPMI Obon Tabroni ketika memaparkan tentang komunikasi dan Koran Perdjoeangan.

“Kita memiliki SMS Center, Koran Perdjoeangan, Website, YouTube, media sosial seperti Facebook dan Twitter, hingga milist. Akan tetapi semua itu berjalan sendiri-sendiri. Belum menjadi bagian dari sebuah sistem yang terorganisir,” ujarnya. Lebih lanjut Obon mengatakan, media komunikasi yang ada masih bersifat personal.

Obon mencontohkan, YouTube yang berisi kegiatan-kegiatan FSPMI, saat ini dikelola oleh Maxie. Koran Perdjoeangan dikelola oleh tim tersendiri. Terpisah dengan tim yang mengelola Website, yang bahkan, bisa jadi tidak ada koordinasi dengan tim yang mengelola Koran Perdjoeangan. Jika kondisi ini terus kita biarkan, bukan tidak mungkin satu ketika Koran Perdjoeangan dan Website memberikan informasi yang berbeda terhadap satu isu yang sama.

“Bahkan kalau kita mengetik nama FSPMI di Facebook, ada sekitar 20 akun yang mengatasnamakan FSPMI. Dari sekian banyak akun itu, mana akun FSPMI yang asli? Kita sendiri tidak tahu. Kalau informasinya benar, saya kira tidak masalah. Bagaimana kalau informasi yang disampaikan keliru, apakah tidak akan menimbulkan polemik di tingkat anggota?”

Seperti kita ketahui bersama,  dunia teknologi dan informasi berkembang sedemikian cepat. Sebagai organisasi modern, tentu FSPMI tidak boleh gagap dalam merespon perkembangan itu. “Anda bisa bayangkan, jika harus mengirim surat melalui fax kepada seluruh PUK di Bekasi saja, butuh waktu tiga hari. Jika ada instruksi turun aksi, bisa jadi aksinya sudah dimulai, surat baru sampai ke PUK. Ini masalah…,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Ketua Konsulat Cabang FSPMI Bekasi. “Sistem fax bahkan sudah mulai ditinggalkan karena kalah cepat dengan informasi yang disebarluaskan melalui Facebook, SMS Cenderung, dsb.”

Belum lagi jika harus berbicara tentang, siapa yang memiliki kewenangan untuk melakukan tanggapan terhadap berita atau informasi yang menyudutkan organisasi. “Kita belum memiliki orang yang ditugaskan untuk mang-counter berita-berita seperti itu.”

Padahal disadari atau tidak, kita sudah memasuki sebuah era dimana informasi memegang peranan yang cukup penting. Dengan media informasi, kita bisa didukung atau bahkan dimusuhi. Oleh karena itu, FSPMI harus mulai mempersiapkan diri dengan baik agar bisa memenangkan “Perang Komunikasi” ini.

Sebagai informasi, DPP FSPMI sudah membentuk Tim Media. Hanya, memang, peran dan fungsinya perlu lebih ditingkatkan. Termasuk dukungan dari seluruh perangkat organisasi. Misalnya dengan men-suplay informasi terkait dengan kebijakan dan kegiatan organisasi. Jika Tim Media tidak diberikan kewenangan untuk mengakses informasi dari organisasi, bisa dipastikan perannya tidak akan maksimal.

Oleh karena itu, menurut Obon, rapat kali ini perlu membahas beberapa hal berikut: Struktur, Mekanisme, Personal in Charge, dan Ogoritas. Direncanakan, pembahasan hal itu akan dilakukan hari ini.

Dengan adanya perbaikan manajemen komunikasi dan informasi yang akan dilakukan FSPMI, semoga organisasi ini akan menjadi semakin baik lagi. (Kascey)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *