Langkah Gagah Perjuangan Upah (Gabungan Antara Narasi dan Fotografi)

Hari masih pagi ketika saya tiba bundaran patung kuda, Jakarta. Terlihat ada beberapa petugas kebersihan yang sedang menjalankan tugasnya. Juga lalu-lalang kendaraan, yang memang selalu ramai saat jam berangkat kerja seperti ini.

Hari itu, tanggal 30 Oktober 2015, KAU-GBI berencana melakukan aksi besar-besaran di Istana Negara untuk menolak PP Pengupahan. Tidak seperti biasa, dalam aksi kali ini, saya memutuskan untuk berangkat terlebih dahulu. Saya memang ingin mendokumentasikan aksi kali ini, sejak awal hingga akhir.

Hingga pukul 09.00 WIB, bundaran patung kuda masih terlihat sepi. | Foto: Kascey
Hingga pukul 09.00 WIB, bundaran patung kuda masih terlihat sepi. | Foto: Kascey

Untuk sampai disini, dari Harmoni saya naik Trans Jakarta. Ketika melewati depan Istana Negara, terlihat ribuan polisi sedang melakukan gelar pasukan. Saya bisa merasakan ketatnya penjagaan oleh aparat. Mungkin sudah tersiar kabar, buruh akan menolak PP Pengupahan dengan sekuat-kuatnya.

Di depan pintu masuk Monas, ada puluhan Brigade SPSI, bersama dengan mobil komando milik mereka. Musik-musik dari Iwan Fals terdengar kencang dari mobil komando itu.

“Isi kepala di balik topi baja. Semua serdadu pasti tak jauh berbeda. Tak peduli perwira bintara atau tamtama. Tetap tentara.

Kata berita gagah perkasa. Apalagi sedang kokang senjata. Persetan siapa saja musuhnya. Perintah datang karang pun dihantam….”

Mobil komando Brigade SPSI Karawang. Ini adalah mobil komanda yang pertamakali datang. Nanti, mobil komando ini juga ikut diamankan, bersama-sama dengan mobil komando milik SBTPI dan FSPMI Bekasi. Foto: Kascey
Mobil komando Brigade SPSI Karawang. Ini adalah mobil komando yang pertamakali tiba di bundaran patung kuda. Di akhir aksi, mobil komando ini menjadi salah satu mobil yang diamankan, bersama-sama dengan mobil komando milik SBTPI dan FSPMI Bekasi. | Foto: Kascey

Saya mendengarkan ‘Serdadu’ dengan khidmat sambil duduk di tangga jembatan penyeberangan yang terletak di dekat patung kuda. Disini, saya sempat menulis status di beranda facebook tentang suasana yang masih sepi:

‪#‎BuruhKepungIstana‬

Patung kuda masih belum terlihat ramai oleh massa aksi. Hanya ada puluhan orang dari Brigade KSPSI dengan mobil komandonya. Sebuah pickup pembawa bendera dari sekretariat KSPI, dan ratusan aparat keamanan yang mulai berjaga-jaga.

Dari mobil komando, lagu-lagu Iwan Fals terus berputar. Menyemangati.

30 Oktober, hari ini, buruh kembali melakukan aksi. Menolak PP 78/2015, yang dianggap sebagai produk kebijakan rezim upah murah.

Tak berapa lama, Farid dan Herveen mengomentari bahwa peserta dari Bekasi terjebak macet di jalan tol.

Dari WA, Herveen mengirimkan foto kawan-kawannya di jalan tol yang sepi karena mobil-mobil berhenti akibat truk yang terguling. Saya tersenyum. Senang saja melihat kawan-kawan yang selalu jenaka dan nampak ceria. Selalu ada sisi humanis dalam setiap perjuangan yang kita lakukan.

Peserta aksi yang terjebak macet di jalan tol memanfaatkan momentum itu untuk mengambil foto. | Foto: Herveen
Peserta aksi yang terjebak macet di jalan tol memanfaatkan momentum itu untuk berfoto. | Foto: Herveen

Tak jauh dari brigade, saya melihat mobil pick up dari KSPI. Membawa bendera. Ada beberapa kawan KSPI disana. Saya mendekat dan menyalami mereka satu persatu. Beberapa kawan dari SPN juga sudah terlihat. Mereka berkumpul di trotoar.

Fery menawari saya sarapan, yang kemudian saya tolak. Saya mencari air mineral di mobil. Dalam pikiran saya, karena ini mobil logistik, pasti membawa banyak air. Tetapi perkiraan saya salah. Mobil ini kosong melompong. Hanya ada bendera KSPI di bagian belakang. Saat itu, Rohman berbaik hati membelikan saya air mineral dalam botol.

Ketika saya mencoba mendekati kawan-kawan SPN, Maxie memanggil saya. Ia memperkenalkan seseorang yang datang dari jauh. Kami ngobrol.

Waktu sudah semakin siang, tetapi massa aksi belum banyak yang datang. Baru ketika massa aksi dari DKI Jakarta tiba di patung kuda, disusul kemudian massa aksi dari daerah yang lain, suasana menjadi ramai. Kawan-kawan dari Bekasi yang tadi terjebak macet pun mulai berdatangan.

Massa aksi mulai terlihat ramai ketika kawan-kawan FSPMI DKI Jakarta mulai berdatangan. | Foto: Kascey
Suasana terlihat ramai ketika kawan-kawan FSPMI DKI Jakarta mulai berdatangan | Foto: Kascey
Kawan-kawan dari element yang lain, seperti KSPSI, KSBSI, SPN, dan lain-lain mulai berdatangan. | Foto: Kascey
Massa aksi dari KSPSI | Foto: Kascey
Massa aksi dari KSBSI | Foto: Kascey
Massa aksi dari KSBSI | Foto: Kascey

Setelah massa berkumpul, mulai dilakukan persiapan untuk berangkat ke Istana. Persiapan segera dilakukan. Massa yang sudah tercecer dikumpulkan.

Semula massa aksi akan bergerak ke Istana Negara dan melakukan sholat Jum`at disana. Tetapi rencana itu dibatalkan. Karena waktu sudah siang, akhirnya diputuskan untuk menggelar sholat Jum`at di bundaran patung kuda.

Mengambil air wudhu di air mancur Indosat | Foto: Ocha
Mengambil air wudhu di air mancur Indosat | Foto: Ocha
Massa aksi menggelar sholat Jum`at di bundaran Patung Kuda | Foto: Ocha
Massa aksi menggelar sholat Jum`at di bundaran Patung Kuda | Foto: Ocha

Selesai menggelar sholat Jum’at, massa bergerak menuju ke Balaikota. Ini untuk memberikan sinyal kepada Gubernur Ahok yang mengeluarkan Peraturan Gubernur untuk membatasi lokasi unjuk rasa di Jakarta.

Dalam perjalanan ke Balaikota, di sebelah kanan jalan, saya melihat kawan-kawan KP-KPBI.

Dari sinilah awalnya. Seluruh massa akhirnya bergabung menjadi satu. Dari atas komando, pemimpin buruh meminta agar seluruh massa membaur. Ini bukan aksi atas nama federasi masing-masing. Bahwa aksi kali ini adalah aksi yang dilakukan oleh Gerakan Buruh Indonesia.

“Barisan pelopor” dari masing-masing organ, seperti Garda Metak, Brigade, Godam, Gerigi, Laskar SPN, membaur menjadi satu. Membentuk warna-warni yang indah.

Raombongan kawan-kawan KP-KPBI. Di akhir aksi, Mobil Komando SBTPI ini dirusak polisi dan diamankan di Polda Metro Jaya. | Foto: Kascey
Ini adalah massa aksi dari KP-KPBI. Di akhir aksi, mobil komando SBTPI ini dirusak polisi dan ikut diamankan di Polda Metro Jaya. | Foto: Kascey

Dari Balaikota, massa bergerak ke Istana.

Saya melihat wajah-wajah yang bergembira. Mereka membawa bendera dan panji-panji organisasi yang berwarna-warni. Aneka tuntutan dalam spanduk di bentangkan. Lagu-lagu perjuangan dan orasi para pimpinan dari mobil komando membuat massa aksi melangkah dengan gagah.

Bergerak menuju Istana Negara
Bergerak serentak menuju Istana Negara | Foto: Kascey
Bergerak menuju Istana Negara
Barisan kawan-kawan SPN | Foto: Kascey
Bergerak menuju Istana Negara
Massa aksi dari SPSI | Foto: Kascey
Bergerak menuju Istana Negara
Massa aksi KP-KPBI | Foto: Kascey
Bergerak menuju Istana Negara
Meriahnya massa aksi dari FSPMI | Foto: Kascey
Bergerak menuju Istana Negara
Massa aksi dari SBSI 92 | Foto: Kascey

Sesampainya di Istana, seluruh mokom merapat ke depan. Hanya tersisa dua mokom yang berada di belakang, milik FSPMI Tangerang dan Karawang. Keduanya memposisikan diri di jalan raya, lurus dengan pintu masuk Monas. Ada Baris Silitonga disini. Ia adalah Koordinator Nasional Garda Metal.

Saya duduk tak jauh dari mokom itu. Ketika melihat Baris dan Joko duduk berdampingan, kami yang duduk melingkar dibawah sempat bercanda, “Lihat tuh, ada angka sepuluh…”

Koordinator Nasional Garda Metal, duduk santai di atas mobil komando | Foto: Marwan
Koordinator Nasional Garda Metal, duduk santai di atas mobil komando | Foto: Marwan

Ketika itu, Roni Febrianto mengirimkan pesan melalui WA agar saya merapat ke mokom dan ikut masuk kedalam, bertemu dengan Menaker. Roni adalah koordinator Tim Media FSPMI. Karena posisi saya berada di belakang, saya tidak bisa ikut. Saya melihat jam di layar handphone, saat itu tepat pukul 15.00 WIB.

Sekitar pukul 16.30 WIB, dari atas mokom yang berada di belakang, Baris Silitonga menginstruksikan agar seluruh massa merapat ke depan Istana. Juga kedua mokom yang tadi berada di Belakang, merapat ke depan Istana.

Massa aksi yang masih duduk-duduk di dalam lingkunan Monas dan sepanjang jalan begerak ke depan.

Tak berama lama, perwakilan buruh yang baru saja ditemui Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M Hanif Dhakiri keluar. Perwakilan buruh, segera menggelar siaran pers di tengah-tengah massa aksi untuk menjelaskan hasil pertemuan. Saya mendekat untuk mengambil gambar. Tetapi karena sangat ramai, akhirnya saya naik ke mokom dan mengambil gambar dari atas. Saat itu, jam menunjukkan pukul 17.01 WIB.

Perwakilan buruh sedang melakukan konferensi pers, setelah ditemui Menteri Ketenagakerjaan | Foto: Kascey
Perwakilan buruh sedang melakukan konferensi pers, setelah ditemui Menteri Ketenagakerjaan | Foto: Kascey

Dalam konferensi pers tersebut, Sekretaris Jenderal Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Muhammad Rusdi mengatakan, bahwa Menteri Hanif tidak mengerti masalah buruh. Bahwa Menaker menegaskan tidak akan mencabut PP Pengupahan. Rusdi mengatakan, Karena PP Pengupahan tidak dicabut, maka buruh akan bertahan di Istana Negara hingga Presiden Joko Widodo mencabut PP tersebut.

“Malam ini kami akan bertahan sampai Jokowi memberikan mandat menteri mencabut PP ini, apa pun resikonya,” tegas Rusdi.

Presiden FSPMI dan KSPI juga hadir dalam aksi kali ini | Foto: Ocha
Terlihat Presiden FSPMI dan KSPI hadir dalam aksi ini | Foto: Ocha

Rusdi menjelaskan, mekanisme pengupahan yang hanya menggunakan nilai inflasi dan pertumbuhan ekonomi merugikan buruh.

“Ini akan mereduksi upah minimum, yang bagi kami upah adalah urat nadi,” ujarnya.

Setelah pimpinan serikat pekerja menyatakan sikap untuk bertahan, barisan pelopor seperti Garda Metal, Brigade SPSI, Laskar SPN, Godam dan Gerigi segera merapatkan barisan. Saya mendekat. Mengamati dari dekat persiapan yang mereka lakukan. Seluruh anggota Garda Metal berbaris di sisi kiri Istana.

Saya melihat wajah-wajah yang bersemangat. Beberapa orang berfoto. Mengabadikan momentum penting, di depan Istana. Nampak rileks sekali.

Menjelang pukul 17.00 WIB, Garda Metal melakukan koordinasi | Foto: Kascey
Menjelang pukul 18.00 WIB, Garda Metal melakukan koordinasi | Foto: Ocha
Sebagian Garda Metal bergerak untuk mengamankan massa aksi di sisi kanan | Foto: Kascey
Sebagian Garda Metal bergerak untuk mengamankan massa aksi di sisi kanan | Foto: Kascey

Jam 17.32, waktu yang tertera di handphone saya, pasukan Garda Metal dibagi dua. Mereka berjaga disisi kanan dan kiri massa. Demikian juga dengan barisan pelopor yang lain. Massa aksi terlindungi oleh pasukan ini, dari sisi kanan dan kiri.

Orasi-orasi yang membakar semangat terus dilakukan.

Sekitar pukul 17.45 WIB, seluruh peserta aksi menghadap ke Istana Negara. Saat itu ada penurunan bendera merah putih. Ribuan orang, dengan sikap hormat, menyanyikan Indonesia Raya dengan khidmat.

Setelah penurunan bendera, massa aksi bersiap untuk melaksanakan sholat Maghrib magrib berjamaah. Lampu-lampu mulai menyala. Saya melihat ke Istana Negara yang mulai temaram. Muram.

Sholat Magrib di depan Istana Negara | Foto: Nani
Sholat Magrib di depan Istana Negara | Foto: Nani

Kurang lebih jam 18.15 WIB, Kapolres Jakarta Pusat memberikan peringatan agar massa membubarkan diri. Tetapi seruan ini dibalas dengan suara gegap gempita. Buruh menyatakan akan bertahan.

Tak berapa lama kemudian, dari arah Istana terdengar teriakan, “Hidup buruh!”

Buruh menyahut dengan suara yang membahana. “Hidup!”

Ternyata teriakan hidup buruh itu datang dari Kapolres Jakarta Pusat. Ia menyampaikan peringatan kedua, agar buruh segera membubarkan diri. Massa menjawab seruan itu dengan bershalawat dan bernyanyi bersama. Lebih keras dari sebelumnya.

Dari mobil komando pusat, massa diingatkan agar tidak melawan aparat. Bahkan ketika ada buruh yang membawa bambu yg tidak ada benderanya, diminta untuk dibuang.

“Kok masih disini, bang?” kata Edoy, ketika melihat saya berada disana. “Hati-hati, bang. Cari tempat aman,” lanjutnya.

Saya mengucapkan terima kasih atas perhatiannya.

Baru kemudian peringatan ketiga dikeluarkan. Kapolres Jakarta Pusat memberikan waktu 2 menit untuk membubarkan. Satu menit berlalu. Tepat pada menit kedua, tembakan water canon dilakukan ke arah massa. Nyanyian “buruh bersatu tak bisa dikalahkan” semakin keras. Massa menyanyikan lagu Maju Tak Gentar, kemudian Halo-halo Bandung.

Water canon mulai menembaki massa aksi | Foto: Ocha
Water canon mulai menembaki massa aksi | Foto: Ocha

Setelah beberapa kali tembakan, mobil komando yang berada di posisi paling depan ditarik ke belakang. Ini dilakukan agar pengeras suara tidak mati akibat semprotan air dari water canon.

Saya mundur ke belakang. Menitipkan tas dan laptop ke seorang kawan dari FSPMI Tangerang. Dengan laptop di punggung, apalagi dihujani air seperti itu, saya tidak bisa bergerak leluasa.

19.02 WIB saya melihat garis depan. Ke ujung sebelah kiri. Jalan sudah basah dengan semprotan water canon. Juga baju-baju yang dikenakan oleh seluruh peserta. Bertemu dengan beberapa kawan. Ada Budi Wardoyo, dengan senyumnya yang khas, sedang menyemangati kawan-kawannya. Kami bersalaman. Setiap orang, malam itu, menjadi seperti teman dekat.

Massa aksi tetap bertahan. Jalan beraspal sudah basah oleh water canon | Foto: Ocha
Massa aksi tetap bertahan. Jalan beraspal sudah basah oleh water canon | Foto: Ocha

Saya mendekat ke arah bendera merah putih yang berkibar di barisan terdepan. Ini adalah satu-satunya bendera yang masih berkibar. Menghadap istana. Disana saya melihat Oji dan beberapa Pangkorda Garda Metal dari berbagai daerah.

Tembakan water canon semakin kencang. Mengarah ke bendera merah putih yang dipegang kawan-kawan Garda Metal. Sekitar sepuluh orang, memegangi tiang bendera. Bertahan. Seluruh massa aksi terkesiap ketika bendera itu robek terkena tembakan water canon. Menghujat aparat, yang dinilai tidak punya hati karena menembaki sang merah putih.

Menjaga agar sang Merah Putih tetap berkibar di angkasa | Foto: Ocha
Menjaga agar sang Merah Putih tetap berkibar di angkasa | Foto: Ocha
Tembakan water canon mengarah ke bendera | Foto: Ocha
Tembakan water canon mengarah ke bendera | Foto: Ocha

Beberapa orang sempat terdorong ketika water canon mengarah ke badan. Tekanan itu semakin kuat. Belum lagi, dari sisi kiri, pasukan PHH semakin mendekat.

Ketika water canon berhenti menembakkan, bendera diturunkan. Saya menduga bendera akan dilipat. Tetapi dugaan saya salah. Dipimpin Oji, Garda Metal justru membentangkan bendera itu ke arah polisi.

Pemimpin polisi itu mendekat. Meminta mundur. Bubar. Tetapi mereka tidak bergeming.

“Saya ingin tahu seberapa besar nyali kalian,” sempat terdengar pernyataan ini dari pimpinan polisi yang sempat maju.

Ia mundur ke belakang. Saya bermaksud mengeluarkan ponsel untuk mengabadikan momentum itu.  Tetapi tak sempat. Hanya dalam sekian detik kemudian tembakan gas air mata mengarah ke massa.

Sambil menutupi hidung dengan baju yang basah, saya bergerak mundur ke belakang sambil terus mengambil gambar. Meski bergerak mundur, massa aksi tetap dalam formasi bertahan. Tidak kocar-kacir. Apalagi lari tungganglanggang.

Garda Metal membentangkan bendera merah putih ke arah polisi yang terus mendekat dari sisi sebelah kiri | Foto: Ocha
Garda Metal membentangkan bendera merah putih ke arah polisi yang terus mendekat dari sisi sebelah kiri | Foto: Ocha
Barisan polisi. Hanya beberapa meter dari massa aksi.
Hanya beberapa meter di hadapan Garda Metal, barisan Polisi PHH semakin mendekat.

Sesaat setelah asap mulai menghilang, polisi yang mengenakan kaos bertuliskan Turn Back Crime bergerak cepat. Mereka langsung menyerang kawan-kawan yang ada di atas mokom. Memukulinya tanpa ampun. Bahkan, mokom-mokom itu dirusak,

Padahal saat itu buruh tidak melawan. Mereka bahkan sudah bergerak mundur.

Mengetahui kawan-kawannya dipukuli, massa sempat bertahan. Hendak maju kedepan. Tetapi instruksi agar tidak melawan terus disuarakan.

Massa aksi bertahan dan ingin kembali menyelamatkan kawan-kawannya yang dipukuli polisi | Foto" Ocha
Massa aksi bertahan dan ingin kembali menyelamatkan kawan-kawannya yang dipukuli polisi | Foto” Ocha

Saya melihat, Iwan, teman di media sudah siap dengan kameranya di lokasi itu. Oleh karena itu, saya memilih untuk mencari posisi lain.

 

Ketika bergerak mundur, saya sempat bertemu dengan Abu Mufakhir yang juga mengabdikan gambar. Tetapi seorang polisi berteriak ke arah kami, “Hei! Kalian yang berpakaian preman, ngapain disitu. Lewati saya kalau berani.” Mendengar bentakan itu, kami berpencar.

Ketika bergerak ke belakang, saya bertemu Taufik dan rombongan GM Tangerang. Ia memberi saya rokok.

“Agar tidak sesak,” katanya. Saya ambil satu. Itu untuk pertamakalinya saya merokok, setelah sekian tahun tidak pernah melakukannya.

Saya agak tenang ketika melihat Rusdi, Ilhamsyah, Baris, dan Oji berada di tengah-tengah massa aksi. Apalagi ketika Isnaini mengatakan ada jaminan bahwa seluruh massa aksi dan mokom yang ditangkap akan dibebaskan, asalkan ada jaminan buruh tidak membuat “ulah” di jalan tol. (*)

Narasi: Kahar S. Cahyono