Jakarta,GBI- Gelar Aksi Besar, 3 pimpinan konfederasi serikat pekerja menegaskan sikap dasar dilakukannya aksi besar yang melibatkan puluhan ribu buruh dari berbagai daerah dan dilakukan serentak di seluruh Indonesia.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nuna Wea semisal, dirinya tegas menolak kebijakan pemerintah yang telah menaikkan harga BBM. Karena menurutnya, kebijakan tersebut sangat makin memberatkan kehidupan rakyat kecil terlebih kaum buruh yang semakin terbebani perekonomiannya.

“Saya tegas menolak kebijakan pemerintahan Presiden Jokowi – JK yang telah menaikkan harga BBM. Karena ini sangat tidak benar, apalagi harga minyak dunia semakin merosot tajam. Ini sama saja bunuh rakyat dan buruhnya perlahan – lahan.” Tegas Andi saat melakukan Aksi besar di bundaran HI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Rabu (10/12/2014).

Andi Gani juga mengatakan, penolakan buruh terhadap rencana menaikkan harga BBM sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi. Pasalnya, kenaikan harga BBM tentu akan semakin memberatkan kehidupan buruh. “Kami menolak dan tidak ada lagi tawar menawar angka dengan kami,” ungkapnya.

Sementara itu, Presiden Konfederasi Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) Mudhofir menambahkan, pihaknya sangat menuntut pemerintahan saat ini (Jokowi-JK) untuk lebih serius memperhatikan nasib kaum pekerja ataupun buruh. Utamanya pada permasalahn sistem kerja outsourcing yang hingga kini menjadi mimpi buruk bagi para pekerja ataupun buruh. Pasalnya, terus diberlakukannya sistem kerja outsourcing. Maka nasib para buruh kian tak menentu arah dan selalu dihantui rasa ketakutan akan masa depannya dalam hal pekerjaan.

“Kami menuntut pemerintah menghapus seluruh jasa tenaga kerja (Outsourcing) tanpa “pandang bulu” dan tidak hanya menghentikan pengajuan izin outsourcing baru.”tegas Mudhofir.

Kritisi isu upah murah, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menegaskan, perjuangan upah masih menjadi perjuangan utama kaum buruh disaat situasi ekonomi negara Indonesia saat ini menempati peringkat 10 dunia yang diukur dari besarnya PDB dan diukur dengan daya beli. Ekonomi kita bahkan di prediksi akan tembus no 7 dunia di tahu 2025.

“Untuk itulah, buruh tegas menolak terus diberlakukannya upah murah.”kecam Said Iqbal.

Belum lagi, Said Iqbal pun juga mengkritisi terkait akan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) pada 2015 nanti. Menurutnya, MEA diyakini tak akan membawa perubahan berarti bagi buruh untuk merealisasikan kebutuhan hidup layak. Karena, lanjut Said Iqbal, salah satu isi dari MEA tersebut kembali memberlakukan upah murah layaknya rezim Soeharto.

“Orang kerja 30 tahun, 40 tahun tapi tetap miskin, itu jahanam. Buat apa kita kerja, stop Masyarakat Ekonomi ASEAN yang hanya menguntungkan pemerintah dan pengusaha. Kita hanya akan jadi pasar. Era Jokowi kembali ke rezim Soeharto dengan upah murah,” tegasnya.

Terima Kasih

Tim Media GBI