Yogyakarta, FSPMI – Berawal dari postingan di media sosial twitter tentang adanya pasangan suami istri yang terkena musibah tertimpa pohon tumbang .

Di laman itu tertulis korban yang bernama Endi Yogananta meminta pertolongan bantuan pendampingan karena kasus yang menimpanya belum ada yang bertanggungjawab.

Berdasarkan berita tersebut, tim Jamkeswatch merasa tergugah untuk membantu mendampingi dan mengadvokasi atas kasus ini.

Oleh karena itu tim Jamkeswatch mencoba menggali data yang lebih lengkap dengan mencari kontak dan menghubunginya. Ketika kontak sudah didapat, maka tim langsung menghubungi korban.

Berdasarkan keterangan korban, bahwa waktu itu, hari rabu, tanggal 5 Februari 2020 kurang lebih pukul 20.00 ,korban dan istrinya yang sedang mengandung anak pertamanya akan pulang dari warung kopi tempatnya mencari nafkah.

Ketika sampai di lampu merah yang berlokasi di Kabupaten Sleman, tiba-tiba ada pohon tua dipinggir jalan yang tumbang dan menimpa beberapa kendaraan yang kebetulan sedang berhenti di lampu merah itu dikarenakan lampu berwarna merah.

Dan mereka tidak bisa dan sempat menghindar. Dari kejadian itu mengakibatkan beberapa orang menjadi korban, termasuk istri dari Endi Yogananta ini yang bernama Israni Sivia Sujarmanto yang sedang hamil anak pertama mereka yang berusia 8 bulan. Oleh Endi Yogananta, suami korban, korban dibawa ke RS. PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan mendapat perawatan selama seminggu, dikarenakan kekurangan alat medis, maka korban dipindahkan ke RS Jokjakarta Internatinal Hospital dengan jaminan pribadi, karena BPJS Kesehatan tidak menjamin korban bencana.

Atas dasar informasi tersebut, tim menghubungi Direktur Advokasi dan Relawan Jamkeswatch, bung Dariyus untuk meminta petunjuk apakah kasus ini ditindak lanjuti atau tidak.

Atas petunjuk dan arahan dari Dariyus, maka ditugaskanlah beberapa relawan Jamkeswatch untuk membantu saudara Endi Yogananta ini, yaitu Rismanto (Bekasi), Budi Santoso (DKI Jakarta), Indra (Bogor) .

Pada hari rabu, tanggal 19 Februari 2020 pukul 22.15, berangkatlah tim Jamkeswatch ke Jogjakarta dengan kendaraan F 1237 JC milik Siburuan Relawan Jamkeswatch Bogor.

Pada hari kamis, tanggal 20 Februari 2020, tim Jamkeswatch tiba di RS. Jogjakarta International Hospital dan bertemu langsung dengan suami korban.

Menurut keterangan suami korban, istrinya menjadi korban pohon tumbang yang mengakibatkan beberapa tulang panggulnya patah. Dan harus mendapat tindakan medis antara lain operasi pemasangan pen ditulang yang patah.

Masalah timbul, karena dari tanggal kejadian diawal di rawat di RS. PKU Muhammadiyah sampai dipindah ke RS. Jogjakarta International Hospital, belum ada pihak yang menyatakan bertanggungjawab atas pembiayaan istrinya di RS.

Suami korban juga menyatakan bahwa mereka ternyata sudah ada kuasa hukum yang mendampingi. Kemudian suami korban juga mengatakan, bahwa pihak pemda Sleman sudah memberikan santunan sebesar Rp. 18.000.000 yang sampai saat ini belum bisa diterima oleh suami korban karena tentu sangat kurang untuk menutup biaya di RS.

Atas informasi tersebut, maka tim Jamkeswatch memberikan beberapa informasi terkait hak-hak korban yang harus didapatkan dalam bentuk pertanggungjawaban dari pihak yang bertanggungjawab yaitu Pemda Sleman, bukan berupa santunan.

Atas info yang diberikan tim, suami korban meminta tim untuk berdiskusi dengan tim kuasa hukumnya. Maka tim pun meluncur ke kantor Deddy Sukamdy and Patners sebagai penerima kuasa hukum. Setelah bertemu, berkenalan, kamipun langsung bedah kasus bersama yang akhirnya membuat kesimpulan bersama bahwa fokus dari pendampingan ini adalah adanya pertanggungjawaban dari pemda Sleman untuk pembiayaan korban di RS. Bahkan tim kuasa hukum mengajak tim Jamkeswatch untuk beraudensi dengan pihak Pemda Sleman. Dikarenakan ada agenda lain, yaitu adanya permintaan diskusi dan sosialisasi dari beberapa komunitas di Jogjakarta, maka secara halus tim tidak bisa ikut beraudensi dengan tim kuasa hukum korban.

Hanya sedikit menekankan agar tim kuasa hukum tetap fokus pada tuntutan utama yaitu meminta pertanggungjawaban Pemda Sleman, bukan santunan.

Setelah selesai berdiskusi dengan tim kuasa hukum korban, tim Jamkeswatch langsung menuju ke lokasi diskusi bersama beberapa komunitas yang mau bergerak untuk ikut mengadvokasi kesehatan masyarakat.

Banyak permasalahan kesehatan yang didiskusikan berrdasarkan pertanyaan dari para audiens. Diskusi berjalan santai tetapi serius ,
Karena waktu yang terbatas, maka kamipun pamit untuk kembali ke Jakarta.

(Omp).

Categories: Headline