IMG_00000673_editOleh: Handoko Wibowo

Raudi. Dia tidak lebih dari seorang tukang ojek dengan kendaraan butut. Dia menjadi anggota pangkalan ojek di Simbangjati, Batang. Konsumennya seringkali komplain, karena motornya sering mogok ditengah jalan.

Dia bukan siapa-siapa.

Waktu kami membuat organisasi tani di Simbangjati dengan anggota petani penggarap PT. Simbangjati Bahagia (150ha) yang diterlantarkan, Raudi dipilih menjadi ketua secara aklamasi.

Benarlah kata pepatah, suara rakyat suara Tuhan. Raudi bekerja dengan tekun dan bertanggungjawab. Setiap ada perintah rapat, dia hadir dengan sepeda motor bututnya. Setiap ada demo, dia bersama humasnya keliling door to door untuk menarik iuran uang bayar truck buat transport.

Dia tidak mengambil uang anggota. Orangnya jujur, lugu dan sederhana. Semua anggota organisasi yang berjumlah 150-an KK menghormatinya sebagai seorang leader.

Barulah Kepala Desa yang semula tidak menganggap Raudi siapa-siapa, mengundangnya dalam selapanan desa. Bahkan setiap penarikan PBB, si Raudi inilah yang siaran melalui speaker di masjid kampong, meminta agar petani membayar pajak negara. Ketika ada kerja bakti, si Raudi juga yang diminta untuk menggerakkan warga.

Mendadak Raudi menjadi tokoh.

Dari sosok yang semula tidak diperhitungkan, menjadi orang yang dianggap panutan.

Bahkan sewaktu mantan kepala desa mengatakan “PKI” terhadap Omahtani, dengan sigap dia minta semua petani tidak menghadiri walimahan anak si mantan Kepala Desa. Akibatnya, tidak ada orang yang datang ketika proses ijab kabul. Mantan Kepala Desa itu dibuat: menangis menyesal.

Mengapa dia full sebagai pemimpin?

Karena instruksi darinya tidak terdistorsi pada level akar rumput. Secara utuh anggota mematuhinya dan menghormatinya. Kuncinya terletak pada: ketulusan dan kesederhanaan.

Dia tetap si Raudi yang bertubuh pendek dengan profesinya sebagai tukang ojek dengan sepeda motor jelek. Saya kira, apa yang dilakukan Raudi adalah hal yang tidak dipunyai oleh siapapun pemimpin di negeri ini.

Dia tidak kagetan dan tidak gampang terheran-heran.

Dia bersama-sama rakyatnya mengejar impian kolektif: kesejahteraan.

Ia bukan mengejar sirene. Bukan patwal, bukan pagar duri dengan satpam, bukan baju safari: lambang naik kelas baru sebagai penguasa sekaligus pengusaha. Raudi tetaptah Raudi yang dulu. Dan karena itulah, ia didengar dan dihormati. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *