2_5Perasaan itu datang lagi.

Entah mengapa, aku selalu tertegun setiap kali melihat wajah-wajah anggun itu berada dalam barisan aksi. Tadinya aku mengira dia tidak akan bersedia menjalani semua ini. Berjalan kaki sejauh beberapa kilometer menuju Gedung Negara Grahadi. Dibawah terik matahari pukul sebelas siang pada musim kemarau yang panjang. Jelas itu bukan tipe dia sekali.

Siang itu panas menyengat.  Aku bahkan harus sering menyeka keringat yang terus mengalir tanpa kompromi.

Tetapi dia seperti tak peduli dengan panasnya matahari. Langkahnya tetap mantap. Tangannya dengan kuat mengangkat spanduk bertuliskan: Naikkah Upah Minimum Tahun 2015 Sebesar 30% dan KHL Menjadi 84 Item.

Ya. Dia memang sedang menuntut kenaikan upah tahun 2015 sebesar 30 persen. Baginya, memperjuangkan upah layak adalah perjuangan yang sesuatu sekali.  Yang membuatnya tetap memiliki energi. Padahal pagi ini dia baru pulang kerja. Sift tiga.

Tidak hanya tentang upah. Dia juga menuntut agar buruh mendapatkan jaminan pensiun dengan manfaat pensiun yang diterima sebesar 75% dari upah terakhir.

“Hapuskan outsourcing. Termasuk yang ada di BUMN.” Ada juga yang mengusung tuntutan ini. Yang lain memegang spanduk:  Tolak Kenaikan Harga BBM.

Selama ini aku selalu beranggapan, perempuan selalu mengutamakan penampilan – isi otak belakangan.

Tetapi ternyata aku salah.

“Didalam diri laki-laki hebat pasti ada perempuan yang menghebatkannya. Oleh karena itu, kami kaum perempuan harus ikut berjuang bersama-sama dengan kaum laki-laki agar gerakan ini menjadi kuat dan semakin hebat.” Dia mengatakan ini. Ketika aku bertanya mengapa dirinya bersedia berpanas-panasan seperti ini.

Aku tertegun. Entah dari mana dia mendapatkan kata-kata barusan.

“Aku ingin selalu bisa ikut dalam aksi,” ujarnya.

“Mengapa?”

“Senang aja.” Dia menjawab singkat.

Sejujurnya demi mendengar jawaban itu aku ingin menjitak kepalanya. Unjuk rasa dia bilang sebuah kesenangan? Turun ke jalan dia anggap seperti sedang pergi ke tempat hiburan?

Ah, ini aneh. Benar-benar aneh. Kontras sekali dengan kebanyakan yang kukenal. Kesenangan mereka justru jalan-jalan di mall, sambil menenteng belanjaan. Tak peduli meski pun uang hasil pinjaman.

Dan dia tidak hanya satu. Dia ada dimana-mana. Di Bekasi, aku bertemu dia. Di Tangerang, Karawang, Purwakarta, Bogor, Bandung, dan Jakarta, aku bertemu dia. Ketika aku terbang ke Batam, dia juga ada disana. Menyeberang ke Karimun pun, dia juga ada.

Baranggkali karena keberanian menular. Ia menjadi wabah yang dengan cepat tersebar.

Ketika panji-panji perjuangan sudah dikibarkan, itu pertanda kita harus siap turun tangan. Tidak ada tempat bagi penitip nasib yang hanya berdiam diri sembari berharap perubahan turun dari langit.

Benih sudah ditanam. Ia pasti akan tumbuh. Meskipun perlahan.

Barangkali kalian menganggap pastisipasinya masih sangat kecil sekali. Aku tidak akan membantah itu. Tetapi satu hal yang harus kalian mengerti, tidak akan menjadi besar jika tidak diawali dari yang kecil. Seperti bola salju. Asalkan tidak berhenti – terus bergerak dan menggelinding – ia akan terus membesar. Menerjang. Melabrak. Mendobrak. Sulit untuk dibuat jinak.

Tidak perlu menunggu orang lain bergerak. Lihatlah dia. Tatap wajahnya. Seperti dirimu. Juga diriku. Dia pun rindu dengan kemenangan itu.

Panji-panji perjuangan sudah dikibarkan. Sambutlah dengan riang… (*)

 

Catatan Perburuhan: Kahar S. Cahyono

2_2