IMG_00000673_editOleh: Handoko Wibowo

Tanggal 11 Juli di tahun 2000, merupakan hari yang memedihkan di organisasi tani kami, Forum Perjuangan Petani Batang (sekarang Omah Tani). Betapa tidak, 21 warga Pagilaran ditangkap Polres Batang atas instruksi AKBP Abdul Kholik karena reclaiming. Waktu itu, kami meminta bantuan kepada LBH Semarang untuk menjadi kuasa hukum.

Rumah saya menjadi tempat pengungsian kurang lebih 150 orang ibu dan balita yang sedang panic, karena kepala keluarga mereka ditangkapi. Melalui loby kawan gerakan, akhirnya saya bertemu dengan Ibu Negara Ny. Sinta Nuriyah Wahid di hotel Graha Santika. Tepatnya di ruang transit.

Saat itu beliau menghadiri seminar yang diselenggarakan oleh K3JHAM, bertemakan Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (CEDAW: Convention on the elimination of All Forms of Discrimination Against Women).

Ibu Negara yang luar biasa itu menerima saya dan rombongan kecil ibu-ibu dari Pagilaran.

Diaturlah oleh moderator, Andik dari LBH Semarang. Sementara dari petani yang berbicara adalah Ny. Saryani. Dengan diselingi isakan tangis – sangat mengharukan – perempuan itu menuturkan  bagaimana polisi menangkap suaminya. Kemudian dua anak balitanya mengejar truk yang mengangkut bapaknya, pamannya, dan tetangganya hingga tikungan jalan.

Mendengar penuturan Ny. Saryani, para petinggi Jawa Tengah berikut ibu-ibu mereka yang hadir dalam seminar itu terkejut dan kikuk.

Suara jernih Ibu Negara sampai sekarang masih terngiang-ngiang. “Coba Anda semua mendengarkan apa yang disampaikan para ibu dari Batang tadi. Begini Bapak Gubernur dan Bapak Kapolda, sebagai Ibu Negara saya hanya bisa mengingatkan, bahwa kekuasaan dipersembahkan pada orang kecil dan membantu yang lemah. Bukan memihak pada yang besar dan kuat”.

Mendengar itu, Gubernur Mardiyanto dan Kapolda terlihat malu.

Ditengah suasana yang terlanjur ‘rusak’ itu, saya melihat Ibu Negara meraih tissue didepannya dan disekalah air di ujung matanya. Saya yakin, sejak tadi air mata itu ditahan-tahan agar tidak jatuh.

Anda kami catat dengan tinta emas ditempat terhormat di hati kami, bu Sinta… (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *