431239_3119729526546_193226425_nOleh: Obon Tabroni *)

“Ya. Siap. Oke Bang…, lapan enam.” Itulah jawaban akhir ketika saya berbeda pandangan dengan Iqbal.

Saya paham, Iqbal adalah presiden yang harus saya ikuti pandangannya. Buat saya, pemimpin tidak pernah salah. Kalau dia salah, kembali ke rumus di atas.

Meskipun saya dan Iqbal sudah sangat lama bersama-sama dalam perjuangan ini, bukan berarti diantara kami tidak ada perbedaan pandangan. Terlebih lagi karakter Iqbal adalah sosok yang sangat kuat dalam memegang prinsip. Terkadang hal ini membuatnya terlihat otoriter, tetapi sesungguhnya dia sangat demokratis. Untuk sesuatu hal yang tidak prinsip, Iqbal tidak tidak banyak ikut campur.

Tentu saja, kapasitasnya  sebagai Presiden FSPMI dan sekaligus Presiden KSPI,  mengharuskannya untuk memiliki pandangan yang lebih luas ketika memutuskan sesuatu. Sementara saya hanya dalam lingkup yang lebih sempit: Ketua KC  FSPMI Bekasi dan Ketum SPAI FSPMI.

Di puluhan situasi, bahkan mungkin ratusan, kami berbeda pendapat dan pandangan. Tentu saja,  meski ada perbedaan, jauh lebih banyak lagi persamaannya. Dan, ini yang saya syukuri: Saya dan Iqbal selalu memiliki jalan keluar untuk menyelesaikan semua perbedaan tadi.

Mari kita bicara perbedaan-perbedaan itu.

Tahun 1998, saat sedang ramai-ramainya aksi untuk menurunkan Soeharto, saya meminta ijin membawa masa ke DPR. Akan tetapi Iqbal – dengan alasan keamanan – meminta kami sebelum ke DPR mendemo SPSI terlebih dahulu, di Pasar Minggu. Karena dari sekian banyak organisasi, SPSI termasuk yang lambat merespon dan berani menyuarakan agar Soeharto lengser.

416730_415650801791667_1498816438_o

Baru-baru ini, tepatnya hari jum,at di minggu yang lalu, perbedaan pandangan itu juga terjadi antara saya dan Iqbal. Bermula dari adanya sebuah PUK yang ingin bergabung dengan SPAI FSPMI. Administrasinya sudah lengkap. Keinginan anggota untuk bergabung sudah mantap. Hanya saja, sebelumnya, sudah ada Serikat Pekerja lain yang sama-sama menjadi anggota KSPI.

Oke, proses adminstrasi itu sudah dipenuhi, yaitu dengan membuat surat pernyataan mengundurkan diri. Tentu bagi saya, sebagai Ketum SPAI FSPMI memandang PUK tersebut layak untuk bergabung.

Bergantian Saya dan Jamal (Sekum SPAI FSPMI) menyampaikan argumentasi. Saya sampaikan tentang kebebasan berserikat. Tidak boleh ada satu pun yang menghalang-halangi, ketika seorang buruh menentukan pilihannya ingin bergabung dengan serikat pekerja mana yang ia suka. Tidak etis rasanya, jika kita justru menghalang-halangi kebebasan itu.

Saya sampaikan juga, jika saat ini PUK tersebut sudah mundur dari SP yang lama. Termasuk kalau toh tidak kita rekrut, mereka bisa pindah ke SP lain. Dari sisi pengembangan, dengan masuknya PUK tersebut, kemungkinan keanggotaan di DPK dan Tripartit menjadi aman.

Tetapi tidak buat Iqbal. Iqbal memandang dari sisi yang lebih luas: “Untuk mempersatukan gerakan, terkadang kita harus mengalah,” katanya.

“Keutuhan KSPI diatas segalanya,” putusnya. Tanpa kompromi.

Saya mencoba memahami pola pikirnya. Tetapi sulit nyambung, karena saya memandang dari sisi SPAI FSPMI, sementara Iqbal dari sisi yang lebih luas lagi. Akhirnya perdebatan di sore itu saya akhiri degan sebuah kalimat: “ Oke, Bang. Entar urus ama Jamal.”

Selepas Iqbal meninggalkan ruangan, tinggal saya bengong sama Jamal. Bagaimana menjelaskan ke anggota yang sangat berharap? Bagaimana menarik SK yang sudah dibuat? Gimana…, gimana…., gimana….

Bersambung…

 

Tulisan Sebelumnya:

Kado Untuk Iqbal (1)

Kado Untuk Iqbal (2)

Kado Untuk Iqbal (3)

 

*) Tulisan ini diedit kembali oleh Kahar S. Cahyono, tanpa merubah substansi/isi

Categories: Tokoh

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *