Tangerang, KPonline – Dalam rangka menyambut Hari Buruh International (May Day), Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Provinsi Banten menggelar Konsolidasi Akbar.

Konsolidasi diselenggarakan di kantor KC FSPMI Tangerang, Ruko Sastra Plaza Blok B-36, Jatiuwung Kota Tangerang, diikuti fungsionaris FSPMI dari Tangerang, Serang, dan Cilegon.

Konsolidasi di awali dengan sambutan perwakilan PC FSPMI Supriyanto dan Ketua KC FSPMI Tangerang, Akhmad Jumali.

Dalam kesempatan ini, Jumalai membahas beberapa hal teknis terkait aksi pada 1 Mei 2017.

Sambutan selanjutnya dari Tukimin, selaku Dewan Pimpinan Wilayah Banten, membahas tentang bahaya Permagangan, tolak PP 78/2015, dan pentingnya Jaminan sosial untuk pekerja/ buruh.

Vice Presiden FSPMI, Kahar S. Cahyono, menceritakan sejarah hari Buruh International. Dia mengingatkan, bahwa may day adalah hari perlawanan. May Day bukanlah hari libur.

Dalam kesempatan ini, Sekretaris Jenderal FSPMI, Riden Hatam Azis, memberikan arahan dan pandangan politiknya terkait perlawanan kaum buruh atas kebijakan pemerintah saat ini, yang dinilai sangat merugikan bahkan menyengsarakan kaum buruh.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap kali menjelang peringatan hari buruh, pimpinan kita akan turun ke daerah. Menggelorakan perlawanan. Menyiapkan barisan untuk turun ke jalan.

Sebelum di Tangerang, sebelumnya, rapat akbar seperti ini juga digelar di Bekasi dan Jakarta, dihadiri kawan-kawan dari Bogor, Depok, dan Jakarta.

Setelah Tangerang, rapat akbar akan digelar di Purwakarta, Bandung, Karawang, Batam, Medan, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya.

Tujuannya adalah, agar isu perjuangan yang telah ditetapkan organisasi bisa dipahami oleh semua. Ini sekaligus menjadi semacam cara untuk melibatkan partisipasi yang lebih luas.

Isu utama tahun ini adalah HOSJATUM. Ia singkatan dari Hapus OutSoucing – JAminan Sosial – Tolak Upah Murah.

Tidak hanya itu, buruh juga akan menyuarakan persoalan rakyat seperti korupsi, agraria, lingkungan hidup, pendidikan, perumahan, transportasi, hingga kemandirian energi.

Rencananya, titik kumpul dilakukan di bundaran HI, Salemba, dan Cempaka Putih. Dari sana buruh akan berjalan mundur, longmarch menuju Istana. Sebagai simbol semakin mundurnya komitment untuk mensejahterakan rakyat.

Penulis: RD Rizal N

Categories: Headline