Go Politik
Go Politik

Ditengah kesibukan perjuangan upah layak, jaminan sosial dan penghapusan outsourcing, cita-cita besar Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) untuk mendudukkan kadernya dalam keanggotaan legislatif tak pernah pudar. Sebagai sebuah cita-cita, organisasi ini memiliki program yang terencana, agar apa yang telah dicita-citakan itu dapat diwujudkan.

Semalam, misalnya, di Bekasi diselenggarakan diskusi go politik. Puluhan orang hadir dalam diskusi yang dipandu oleh Ketua KC FSPMI Bekasi Obon Tabroni dan Tokoh Omah Tani Handoko Wibowo. Nampak hadir dalam pertemuan itu, beberapa caleg kader buruh yang direkomendasikan oleh FSPMI.

Saya berkesempatan ikut hadir dalam diskusi itu. Kebetulan sorenya saya berada di DPP, sehingga bisa meluangkan waktu ke Bekasi.

Diskusi malam itu nampak hidup. Sebuah tanda, jika agenda go politik ini sudah banyak yang memahaminya.

Memang, ada kekhawatiran jika mereka yang dicalonkan organisasi itu terpilih sebagai anggota dewan itu akan berkhianat dikemudian hari. Menanggapi kekhawatiran itu, Handoko mengatakan, tak perlu risau. “Kalau dikhianati, paling hanya akan hilang mereka yang duduk disana,” ujarnya. Kemudian Handoko melanjutkan, “Kita akan melakukan hal serupa di kesempatan berikutnya, dan mereka yang berkhianat tadi jangan harap bisa kembali ke organisasi ini.”

Bukanlah kekhawatiran itu yang sesungguhnya lebih penting. Tetapi kerja keras untuk memastikan setiap buruh memiliki kesadaran politik. Seringkali kita hanya memperbesar kekhawatiran, namun lupa melakukan kerja-kerja yang justru menjadi substansi.

Bahkan ketika kita tidak menggunakan hak pilih, anggota legislatif akan tetap terpilih. Tetapi jangan salahkan jika kemudian mereka yang terpilih adalah orang-orang yang tidak memiliki kepedulian terhadap perjuangan kaum buruh. Karena, memang, mereka tidak berasal dari rahim gerakan serikat buruh.

Kalau pun kita bersikap apatis. Kemudian menjauhi politik karena menganggap politik itu kotor, toh mereka akan tetap memimpin. Dan perlu diketahui, hal ini sesungguhnya merupakan jebakan. Seolah-olah, ada yang hendak membisikkan: “Biarkan urusan politik itu urusan kami, kalian jangan ambil bagian dan menjauhlah dari urusan ini.”

Dan karena bersikap golput lantas Anda merasa terbebas dari dosa politik? Owh, pemikiran yang naif sekali.

Coba kalau ada kawan kita yang menjadi anggota legislatif? Setidaknya perjuangan organisasi bisa mendapatkan dukungan yang berarti.

Oleh karena itu, go politik harus dibaca sebagai varian gerakan. Melalui go politik, kita akan melakukan cara baru dalam berjuang. Kita akan bersuara dari segi regulasi. Tentu saja, aksi tetap akan dilakukan. Bahkan jika perlu ditingkatkan. Bedanya, kali ini aksi kita dipimpin oleh kader serikat yang menjabat sebagai anggota legislatif.

Jadi go politik bukan untuk mengecilkan organisasi. Justru sebaliknya, dia ingin membesarkan organisasi. Go politik bukanlah tujuan, karena sesungguhnya dia hanyalah alat untuk memperjuangkan tujuan tujuan itu sendiri.

Kita tidak sedang mencetak orang-orang yang terhormat. Sama sekali, tidak. Kita hanya ingin membuat terobosan, agar ada kebijakan yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat disana, di gedung DPR.

Maka, jangan tertutup pesimisme. Apalagi sejauh ini, kita sudah melakukan kerja-kerja yang luar biasa. Kita melakukan apa yang tidak dilakukan oleh partai: membangun basis.

Kita pasti bisa melakukannya. Saya kira, itulah keyakinan kita. (Kascey)

 

:: Catatan ini merupakan rangkuman dari berbagai pemikiran dari Diskusi Go Politik yang diselenggarakan di Sekretariat PC FSPMI Bekasi. Kamis, 17 Oktober 2013..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *