Rony Febrianto  ( FSPMI ) pada saat mengikuti pendidikan bersama serikat negara lain.

Rony Febrianto ( FSPMI ) pada saat mengikuti pendidikan bersama serikat negara lain.

Awal lahirnya kapitalisme .

Sejak awal lahirnya ilmu ekonomi, telah ada suatu moral-science. Adam Smith sebelum menerbitkan bukunya Wealth of Nationsyang sangat terkenal itu (1776), ia menerbitkan lebih dahulu bukunya The Theory of Moral Sentiments (1759). Sebagai suatu moral science ilmu ekonomi secara epistemologis disusun dan dikembangkan untuk peduli tidak saja dengan masalah pertumbuhan ekonomi, tetapi juga sekaligus dengan masalah pemerataan ekonomi, lapangan kerja dan keadilan, khususnya keadilan-sosial. Sebagai homo-economicus (economic animal) banyak yang menentangnya. Manusia juga harus dilihat sebagai homo-socious, bahkan juga sebagai homo-religious (homo-imago-Dei).

Ilmu ekonomi terpecah-pecah menjadi berbagai ideologi dan doktrin ekonomi. Yang paling menonjol adalah dua ideologi yang tidak mudah dirukunkan, yaitu yang berorientasi pada pengutamaan kepentingan individu, yang kita kenal sebagai “individualisme”, dan yang lain berorientasi kepada kepentingan bersama, yang kita kenal dengan “kolektivisme”. Secara garis besarnya, individualisme dengan berbagai variasinya berkembang menjadi sukma kapitalisme (the right). Sedangkan kolektivisme berkembang menjadi sukma aneka ragam sosialisme (the left).

Globalisasi

Banyak yang menganggap bahwa dalam globalisasi ekonomi saat ini mempertentangkan kapitalisme dan sosialisme telah dianggap kuno, meskipun pembela-pembela dari masing-masing kubu masih terus gigih mempertahankan keyakinan mereka masing-masing secara filsafati globalisasi ekonomi dalam mencapai wujud finalnya. diharapkan dapat menjanjikan suatu kemakmuran dan keadilan global.

Komunisme sebagai bentuk sosialisme ekstrim memang telah gagal total, tetapi ide-ide sosialisme moderat tetap bertahan dengan kukuh dan berkembang di dalam negara-negara kapitalis. Di pihak lain kapitalisme pun boleh dikatakan telah menang pula dalam pertarungan besar ini, berkat kemampuannya melakukan self-koreksi dari dalam, cukup fleksibel dalam menghadapi perubahan, serta mampu menjadi sosialistik dan menghormati kepentingan publik. Namun, bagaimanapun juga hendaknya kita tidak lengah terhadap naluri dasar (basic instinct) kapitalisme yang selalu cenderung mengabaikah permasalahan dalam masyarakat.Tentu tidak salah apabila banyak yang tetap terkesan bahwa kapitalismelah yang sebenarnya keluar sebagai pemenang, mengingat globalisasi ekonomi saat ini digerakkan oleh pasar-bebas, yang dikenal sebagai pasarnya kaum kapitalis global Globalisasi dan Pasar-Bebas kedua-duanya adalah kekuatan lama yang telah berubah (rejuvenating themselves and growing anew), dari latent seabad yang lalu, menjadi riil dan penuh vitalitas saat ini. Pasar-bebas dengan segala ketidaksempurnaannya mampu menggulung dan menggusur apa saja yang merintanginya.Tentu pasar-bebas, tidak diragukan, tetap menjadi tempat persembunyian bagi basic-instinct kapitalisme kuno.

Pasar-bebas telah digunakan oleh kaum kapitalis global sebagai pembenaran untuk dapat tercapainya efisiensi ekonomi dunia demi kesejahteraan ekonomi dunia. Memang rasionalitas pasar-bebas, ceteris paribus, akan menghasilkan efisiensi yang optimal dalam perekonomian dunia. Tetapi yang sangat penting untuk dipertanyakan adalah mengapa untuk memperoleh efisiensi dunia itunegara-negara berkembang harus membiayainya lebih banyak, artinya harus berkorbanter lalu banyak ?

Pasar-bebas yang diberlakukan di negara-negra berkembang tidak sedikit yang menghasilkan pelumpuhan (disempowerment) bahkan pemiskinan impoverishment)terhadap rakyat kecil.Mekanisme pasar tak lain adalah suatu mekanisme lelangan atau auction-mechanism. Dengan demikian itu pemilik dana besarlah yang akan menang dalam auction. Sementara yang miskin akan hanya menjadi penonton transaksi ekonomi,menerima nasib sebagai price-taker, atau bahkan akan bisa tergusur peran ekonominya.

Di sini yang berlaku hanya persaingan dan daya saing. Yang besar dan kuat secara ekonomi akan keluar sebagai pemenang. Para ekonom-ekonom yang mencemaskan globalisasi ekonomi sebagai penyebar ketidak-adilan global (global inequality).

Secara prinsip globalisasi adalah bergeraknya modal secara massif tanpa halangan dan kontrol dari negara ,demi terus berakumulasinya keutungan bahwa seluruh dunia ini akan makmur kalau semua negara di dunia ini mau saling membuka perbatasannya. Barang- barang dapat keluar dan masuk dengan bebas, begitu juga investasi. Bukan hanya itu. Perdagangan dan investasi internasional juga akan membawa perdamaian dunia. Negara-negara memilih untuk tidak berperang karena ekonomi mereka terkait satu sama lain. Logikanya memang memikat: free trade plus free market menghasilkan kemakmuran plus perdamaian.

Perdagangan antara negara kaya (Utara) dan negara miskin (Selatan) adalah hubungan tukar- menukar yang tidak setara karena pasar internasional yang ada di bawah kontrol negara-negara maju saat ini menyebabkan merosotnya harga bahan mentah yang dihasilkan oleh negara-negara Selatan dan meningkatnya harga produk industri yang dihasilkan oleh negara-negara Utara. Yang disebut terms of trade ini memang merugikan negara Selatan. Lebih parahnya, perdagangan internasional justru mendorong negara-negara Selatan untuk memusatkan diri pada bentuk produksi yang terbelakang yang sulit akan mendorong terjadinya pembangunan. Investasi asing semakin menimbulkan hambatan dan distorsi bagi negara- negara Selatan. Mereka memegang kontrol atas industri lokal yang paling dinamis dan mengeruk surplus ekonomi dari sektor ini dengan cara repatriasi keuntungan, royalty fees, maupun lisensi-lisensi , terjadi aliran modal ke luar dari Selatan ke Utara menggusur modal lokal dan pengusaha lokal. Akibat yang tidak kalah menakutkan adalah terjadinya produksi yang berorientasi untuk ekspor saja dan karena itu dihasilkan pola konsumsi yang tidak aneh.

Elite lokal yang demi kepentingan diri mereka sendiri ingin melanggengkan kekuasaan mereka dengan senang hati bekerja sama dengan elite kapitalis internasional. Kerja sama seperti ini yang melanggengkan sistem kapitalis internasional. Untuk menjamin bahwa Kongres Amerika Serikat akan meratifikasi Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), para pengusaha swasta di Amerika membangun yang disebut Alliance for GATT NOW. Aliansi ini bekerja keras mendekati redaksi-redaksi surat kabar di seluruh Amerika dan juga mendekati anggota Kongres agar mendukung Uruguay Round. Aliansi ini berhasil menggalang tidak kurang dari 200.000 pengusaha besar maupun kecil.

Penentangan atas Globalisasi

Namun ketika para pendukung WTO merasa aman, pecah The Battle of Seattle yang tak dinyana- nyana itu. Ketika itu, Desember 1999, di Seattle (sebuah kota di ujung barat laut Amerika) tengah diadakan konferensi WTO. Panitia penyelenggara tidak menduga bahwa ribuan orang dari berbagai golongan dan kelompok orang berkumpul di kota yang terkenal paling indah di Amerika Serikat dan memblokir jalan-jalan menuju ke tempat penyelenggaraan konferensi. Mereka menuduh WTO sebagai biang dari semua kekacauan dan kejahatan dunia: membuat orang miskin makin miskin, membuat pendidikan mahal, membuat lingkungan rusak, membuat buruh kehilangan pekerjaan, membuat kaum perempuan kian tertindas, membuat anak-anak dipaksa bekerja, dan sebagainya.

Kota Seattle berhenti, pusat bisnis berhenti. Konferensi yang dibayangkan akan menjadi pesta yang menyenangkan berubah menjadi ajang pertempuran. Di luar para demonstran menggebu menuju tempat konferensi dan dicegat oleh polisi. Mula-mula tidak ada kekerasan, tetapi lambat laun kekerasan tidak terhindarkan. Tidak ada lagi suasana damai di Seattle, digantikan “suasana perang”.

Konferensi WTO di Seattle gagal total, tidak menghasilkan kesimpulan apa-apa. Para menteri perdagangan pulang dengan tangan hampa.Inilah bentuk perlawanan oleh masyarakat sipil paling besar dan paling berhasil. Mereka berhasil menggagalkan konferensi elite tingkat tinggi yang tidak lain adalah koalisi antara pemerintah dan pelaku bisnis.

Pertarungan antara pendukung teori ekonomi liberal dan yang bukan tidak berhenti di sini. Demonstrasi besar senantiasa mengiringi setiap konferensi atau pertemuan puncak yang diadakan oleh tiga lembaga internasional besar, WTO, Bank Dunia, dan IMF. Kecuali itu, demonstrasi besar juga membayangi setiap pertemuan para pemimpin negara-negara kaya seperti G 8. Setelah Seattle, setiap kota yang dipakai untuk konferensi itu pasti dibanjiri oleh demonstran, bukan hanya demonstran lokal, tetapi juga dari seluruh dunia. Maka, sejak tahun 1999 itu kita lihat di layar televisi clash antara demonstran dan polisi di Washington (2000), Hawaii (2001), Genoa (2001), Chiangmai, Thailand (2001),Hongkong ( 2004 ) ,Singapore ( 2006 ).

Para penganut ekonomi liberal/neoliberal saat ini memang “di atas angin” persis karena merekalah yang mendominasi panggung utama dunia. Mereka tampil di acara-acara gemerlap di sidang-sidang yang diadakan di hotel dan disorot oleh kamera televisi. Foto mereka muncul di koran dan majalah. Sementara para penentangnya ada di luar panggung yang tersedia itu. Mereka tampil sebagai demonstran yang tidak terorganisasi, bahkan memberi kesan kacau. Maka tidak mengherankan bahwa dalam pemberitaan di media massa para demonstran selalu diberi nama “kaum anarkis” atau demonstrasi “antiglobalisasi.”

Solidaritas dan Pengorganisiran kaum buruh .

Dengan adanya globalisasi sepintas memang sepertinya akan mendatangkan perbaikan taraf hidup bagi kaum buruh karena perusahaan multinasional relatif memberikan upah dan kesejahteraan lebih tinggi dari perusahaan lokal ,tapi bila dicermati bila dibanding dengan labor cost yang dikeluarkan dinegara asalnya mungkin hanya sepersepuluhnya karenanya wajar bila mereka cenderung menanamkan modalnya dinegara yang upahnya lebih rendah agar keuntungan terus bisa dioptimalkan Disisi lain para buruh yang ada dinegara asal akan mengalami masaiah PHK dengan adanya relokasi kenegara lain .Karenanya banyak serikat buruh negara maju yang terus berupaya membangun jaringan solidaritas dengan serikat buruh di negara berkembang termasuk Indonesia untuk memberikan penyadaran bahaya globalisasi bagi kaum buruh Mereka sadar tidak mungkin menggembalikan pabrik yang sudah dipindahkan tapi dengan solidaritas diharapkan tingkat kesejahteraan kaum buruh dinegara berkembang bisa lebih meningkat dan ekspoitasi sebagai naluri dari modal bisa dilawan secara bersama sama.

Upaya menggalangan solidaritas buruh ditingkatan konfederasi internasional sudah dirintis sejak kongres ICFTU tahun 2004 di Miyazaki Jepang ,dimana dua serikat buruh besar dunia ICFTU dan WCL bersepakat untuk melebur diri dan melawan kekuatan modal internasional yang diwakili oleh perusahaan multinasioanal yang terus menguasai ekonomi dunia .

Akhirnya 1 November 2006 dalam Kongres di Viena lahirlah ITUC sebagai gabungan dari Konfederasi Serikat buruh internasional yang beranggotakan 166 juta pekerja dari 156 negara serta beranggotakan 309 organisasi affiliasi. Tentu saja kekuatan 166 juta adalah kekuatan yang cukup potensial jika bisa dijalankan secara efektif dan progressif dalam mengimbangi kapitalis internasional. Gerakan solidaritas internasional juga harus turun sampai kelevel nasional bahkan ke basis di pabrik pabrik .

Kalau pengorganisasian berhenti sampai pada tahap awal saja, lantas apa bedanya dengan serikat buruh ‘kuning’, pentingnya membangun ‘organised workers’. Selama ini banyak buruh yang diklaim serikat sebagai anggotanya, sebetulnya baru merupakan ‘floating mass’, yang memiliki karakter; enggan terlibat aktif dalam kegiatan organisasi, mungkin mereka mau membayar iuran, tapi selalu menagih konsesi pelayanan dan perlindungan yang lebih besar ketimbang jumlah iuran yang diberikan. Mereka bersikap seperti ini karena beranggapan bahwa serikat adalah milik atau identik dengan pengurusnya saja. Tidak heran bila sekali buruh terpilih menjadi pengurus, maka selamanya akan menjadi pengurus, baik di tingkat pabrik, cabang, wilayah atau nasional.

Tugas pengorganisasian pada tahap ini adalah meluruskan anggapan serikat sebagai organisasi pelayanan, sampai mereka mengerti bahwa serikat adalah diri mereka sendiri, ekspresi politik mereka, wujud kolektif mereka.

Upaya meletakkan pondasi demokrasi bagi serikat.

Semakin tinggi partisipasi anggota dalam setiap kebijakan yang diputuskan serikat, maka semakin demokratis sebuah serikat. Tapi sebalikya, serikat buruh tidak demokratis ketika anggota masih bersikap apatis terhadap apa yang terjadi di tingkat pengurus.pengorganisasian bukan pekerjaan yang berdiri sendiri, tapi selalu menjadi bagian dari ‘grand strategy’ membangun basis gerakan buruh yang berorientasi pada perubahan.

Visi pengorganisaian tentang perubahan merupakan pandangan filosofis tentang bagaimana dan mengapa perubahan terjadi, yakni gambaran dari skenario sebab-akibat bagaimana perubahan diyakini terjadi. Salah satu tolak ukur keberhasilan pengorganisasian adalah munculnya kader-kader yang memiliki daya tahan yang kuat, memiliki dedikasi dan komitmen. Mereka dituntut kerja dengan jam kerja panjang, uncontrol schedule, dan keterlibatan yang sepenuh hati. Mereka harus punya kemampuan menjaga relasi individual dari perselisihan, ketegangan, dan affair. Kader juga perlu memiliki skill interaksional; membangun komunikasi dua arah, memberi respon dengan empaty dan pandai terlibat dalam pergaulan individual dan kelompok.

Karena fungsinya yang strategis dalam mempersiapkan gerakan buruh, pengorganisasian yang dilakukan harus dilakukan dengan tepat dan terarah. Tepat artinya pilihan basis pengorganisasian tidak lagi dilakukan semata-mata atas kepentingan rekrutmen, asal mendapat anggota baru, tetapi juga perlu dipertimbangkan posisi basis dalam perkembangan industri ke depan buruh masih cukup strategis menjadi ‘agen’ gerakan di masa depan mengingat trend industri di Indonesia di masa depan.masih akan memberikan harapan adanya pembukaan industri baru.

Langkah untuk membangun organisasi serikat pekerja yang progresif dan terus menggalang solidaritas dengan semua kaum buruh di Indonesia dan Internasional adalah alternatif untuk mengimbangi kuatnya dampak negatif dari globalisasi yang terbukti sampai saat ini terus menyengsarakan kaum buruh dan masyarakat dengan kemiskinan absolute dan banyak rusaknya kehidupan sosial di masyarakat buruh . ( r/f )

Ir. Rony Febrianto Ketua PP SPE FSPMI

Categories: Opini

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *