IMG_00000673_editOleh: Handoko Wibowo

Pinjaman bapak saya macet di BRI Batang, karena tahun 1992 kami dilarang berdagang cengkeh oleh aturan monopoli BPPC milik Tommy Soeharto. Akibatnya, tanpa ampun BUPLN melakukan lelang, dimana setiap hari pelelangan merupakan hari yang sangat menyesakkan dada saya sebagai si sulung yang tidak bisa melunasi hutang-hutangnya.

Kemudian ada pembeli rumah induk keluarga saya, seorang tetangga. Harga sudah deal, 400 juta.

Akan tetapi setelah melihat berita koran bahwa rumah keluarga saya nilainya lebih rendah dari itu, si pembeli membatalkannya dan kemudian mengikuti proses lelang rumah itu dengan harga yang lebih murah.

Saya pasrah. Biarlah Tuhan yang menentukan.

Tiba-tiba seorang elite kospin Jasa menemui saya dan langsung deal, disepakati harga.

Saya bilang, “Mengapa anda tidak ikut lelang saja seperti pembeli sebelumnya? Kan lebih murah?”

Ternyata, ada larangan dari pimpinan mereka, alm. H Zaky A Djunaid (Ketua Umum Kospin Jasa Pekalongan), untuk membangun kantor baru di Bandar dengan cara membuat orang lain ‘tidak enak’ dan menghindari orang lain ‘tidak iklas” jika prosesnya melalui pelelangan. Ternyata maksud baik itu ditolak BRI, yang lebih suka melalui proses pelelangan.

Pada hari pelelangan, terjadi perang harga dengan si calon pembeli yang tidak lain adalah tetangga saya yang tadinya sudah menyepakati untuk membeli 400 juta. Diluar perhitungan, ternyata Koperasi Jasa menaikkan tawaran harga pada angka di kisaran 1,2 Milyar.

Lunas-lah hutang bapak saya. Walaupun akhirnya rumah itu jatuh ke tetangga saya, akan tetapi alm. H Zaky telah menolong kami dengan menaikkan harga tanah itu sampai 300 persen.

Suatu saat, saya bertemu dengannya. Dia berkata kepada saya, “Koperasi kami prularis. Selalu ada pengurus dari Pribumi, Tionghoa dan Arab. Saya tidak membeli tanah dengan lelang, karena saya tidak ingin bisnis dimulai dengan sakit hati, ketidak ikhlasan, dan ketertekanan orang lain”.

Seandainya ada sedikit etika pada dunia bisnis, sedikit saja, saya yakin jalan tol tidak dimacetkan lagi oleh kawan-kawan Buruh Bekasi Bergerak. Mungkin pula berkurang orang bisnis jadi “ekonomi animal”: ketika nanti mereka mati, memiliki ekor.

Categories: Opini

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *