Saya sadar, rentang waktu 3 tahun 6 bulan bergabung dengan serikat pekerja, adalah waktu yang sangat singkat jika dibandingkan dengan sejarah panjang gerakan buruh di Indonesia. Akan tetapi, dalam rentang waktu yang hanya 3,5 tahun itu sudah membuat saya cukup mengerti apa yang sesungguhnya menjadi permasalahan bagi kaum buruh. Tak perlu ditanya dari mana saya bisa mendapatkan  pengetahuan itu. Toh saya sendiri adalah buruh.

suasana rapat pleno dpk batam jan 13

Sejak tahun 1998 saya sudah bekerja di pabrik. Saya ikut mendirikan serikat pekerja di PT. Sanmina Batam pada tahun 2010, sekaligus menjadi Ketua Ketua PUK SPEE FSPMI untuk Periode Pertama. Sejak tahun 2012 saya juga mulai aktif dalam organisasi ini ditingkat cabang, dengan menjadi anggota Konsulat Cabang FSPMI Kota Batam. Di tahun yang sama, saya juga dipercaya oleh organisasi untuk menjadi anggota Dewan Pengupahan Kota Batam utusan dari FSPMI. Baru-baru ini, saya terpilih kembali menjadi Ketua PUK SPEE FSPMI PT. Sanmina Batam untuk Periode Kedua.

Kebanyakan pekerja di Kota Batam berasal dari kampung halaman, yang jauh-jauh datang ke kota ini untuk merubah nasib. Dalam pikiran mereka hanyalah bagaimana cara untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Sehingga lembur menjadi pilihan utama untuk menambah pendapatan.

Disisi lain, lembur inilah yang kemudian menjadi penghalang utama ketika kita mencoba untuk mengatur waktu guna menyelenggarakan pendidikan mengenai serikat pekerja. Selain waktu yang tersita oleh lembur, juga tenaga si buruh itu sendiri yang kelelahan setelah memforsir tenaganya dalam kerja. Wajar jika timbul rasa malas untuk diajak menghadiri kegiatan-kegiatan serikat.

Saya berpendapat, situasi ini bisa kita pecahkan dengan melakukan gerakan yang melibatkan seluruh pekerja untuk secara langsung mengangkat isu kesejahteraan di tingkat pabrik. Selain menimbulkan kesadaran kelas buruh, juga memberikan pengalaman berharga yang pasti akan membekas dihati mereka. Bahwa ketika kaum buruh berjuang secara bersama-sama, akan memberikan hasil sesuai dengan yang diharapkan.

Jadi bukan lembur yang sesungguhnya akan meningkatkan kesejahteraan kita. Tetapi kekuatan serikat pekerja lah yang membuat buruh memiliki daya tawar ketika meminta peningkatan kesejahteraan.

Solusi lain, serikat harus lebih aktif dalam memanfaatkan berbagai media untuk terus menjalin komunikasi dengan kaum buruh sampai di tingkatan akar rumput. Bisa melalui milis, grup atau funpage Fb, buletin cetak, SMS Center, majalah dinding, dsb.

Hal yang tak kalah penting adalah dengan melakukan transparansi dibidang keuangan. Karena umumnya, yang dapat menghancurkan suatu organisasi non profit seperti serikat pekerja adalah tidak adanya transparansi pelaporan keuangan. Kecurigaan bahwa dana organisasi hanya kepentingan individu tertentu dan bukan untuk kepentingan organisasi itu sendiri, akan menyebabkan kepercayaan sulit untuk dibangun kembali.

Menjadikan organisasi FSPMI semakin besar adalah suatu keharusan. Semakin besar organisasi, idealnya akan semakin mampu memberikan pengaruh terhadap kebijakan perburuhan secara global dan membantu menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. Tetapi dasar pijakannya sebagai organisasi buruh yang militan dan idealis harus tetap terjaga secara sistematis.

Meskipun demikian, jauh lebih penting adalah tetap bertahan dengan prinsip-prinsip yang tegas seperti sekarang.

Anda pasti akan bertanya, prinsip seperti apa yang saya maksud? Saya akan menjabarkannya kedalam empat hal berikut. Pertama, mandiri. Baik secara keuangan maupun garis kebijakan, tanpa ada campur tangan dan kepentingan dari pihak manapun selain untuk perbaikan nasib buruh Indonesia. Tidak mustahil, jika kita konsisten dengan ini, maka kaum buruh akan menjadi salah satu aktor utama bagi kejayaan Indonesia.

Kedua, tetap rendah hati. Tidak peduli apapun benderanya, yang penting visi dan misi perjuangan sejalan, kita harus tetap menjaga persatuan dan kesatuan kaum buruh. Apalagi saat ini, dibawah komando bung Said Iqbal, FSPMI menjadi pusat perhatian banyak kalangan.

Ketiga, pendidikan militansi harus terus ditingkatkan. Bukan hanya untuk anggota, tetapi juga untuk para pengurusnya. Dan keempat, soal transparansi. Kran keterbukaan mengenai pelaporan keuangan organisasi harus dibuka, karena memang sejatinya anggota-lah pemilih sah dari organisasi yang kita cintai ini. (kascey)

 

Baca Juga:

Darmo Juwono: Yang Berani Mengambil Resiko

Darmo Juwono: Berjuang Untuk Upah Layak Dengan Tanpa Basa-Basi

Darmo Juwono: Inginkan Buruh Cerdas dan Bermartabat

Darmo Juwono: Menjaga Sikap Sederhana

Darmo Juwono: Permasalahan – Jalan Keluar – Harapan


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *