Cuti Haid Jadi Polemik, Indusri All Global Gelar Penyuluhan Buruh Perempuan

img-20161201-wa0041

MEDAN,FSPMI- IndustriALL Global Union sedang memperjuangkan kembali perlindungan maternitas bagi para buruh perempuan di Indonesia yang hampir terlupakan, diantaranya adalah cuti haid dan cuti melahirkan.

“Sebenarnya ini adalah masalah klasik, ini selalu menjadi isu polemik sejak puluhan tahun lalu,” ujar Koordinator Proyek IndustriALL, Indah Saptorini kepada wartawan usai acara Organising Training di Swiss Belliin Hotel Medan, Jumat (25/11/2016).
Selama ini, para buruh hanya terfokus kepada upah minimum dan tunjangan. 

Jarang menyoroti hak-hak buruh perempuan seperti ini, padahal banyak pelanggaran-pelanggaran terjadi yang dilakukan pengusaha terhadap buruh perempuan di perusahaan-perusahaan. Padahal cuti haid dan cuti melahirkan diatur dalam UU No 1 Tahun 1948 dan UU No 13 Tahun 2003.

“Banyak buruh menganggap hal ini tidak menjadi masalah, yang terpenting upah naik terus. Bahkan, banyak buruh perempuan tidak mengambil cuti tersebut karena dianggap tidak penting atau dipersulit pihak manajemen perusahaan. Di dalam serikat pekerja sendiri pun, isu-isu utama selalu ditentukan pihak buruh laki-laki, sehingga isu-isu seperti ini terlupakan, karena buruh perempuan tidak memiliki kesempatan menuangkan pemikiran dan aspirasinya di dalam Perjanjian Kerja Bersama (PKB),” bebernya.

Karena itu, Indah berharap, serikat pekerja harus mulai memberikan edukasi kepada anggotanya terkait ini. Serikat pekerja diharapkan dapat melibatkan para buruh perempuan dalam menentukan poin-poin di dalam PKB.

“Ini harus cepat ditangani, kalau tidak maka cuti haid akan segera dihapuskan. Cuti melahirkan malah dikurangi karena dianggap tidak begitu penting. Kita berharap agar permasalahan ini menjadi isu utama, agar nantinya ke depan tidak semakin memburuk. Di dunia saja, cuti ini hanyaa ada di 3 negara, yakni Korea Selatan, Jepang dan Indonesia,” ungkapnya.

Menurutnya, isu-isu seperti ini jika di munculkan ke permukaan, malah menjadi bumerang bagi para buruh sendiri. Ini karena tidak berimbang perundingan antara serikat pekerja dan pengusaha. “Karena itu, kekuatan buruh harus diperhatikan. Berikan edukasi kepada para buruh, bahwa ini menjadi hal yang penting,” katanya.

Ia berharap, serikat buruh haruslah berimbang. Bukan hanya terlihat hebat saat di melakukan aksi, tetapi juga di internal perusahaan tersebut.

Seorang peserta Pelatihan Organising Training Bidang Perempuan KC FSPMI Deliserdang Nuraidah mengungkapkan, bersyukur dapat mengikuti pelatihan tentang buruh, yang diadakan IndustriALL.

“Dengan edukasi ini kita jadi paham, bahwa cuti haid dan cuti melahirkan itu sangat penting. Saya berharap cuti-cuti ini dapat ditambah. Ternyata ada perusahaan yang sudah menyetujui hak-hak perempuan di dalam PKB, seperti cuti haid, cuti menyusui, cuti melahirkan selama 14 minggu hari kerja dan sebagainya,” katanya.

Untuk ke depannya, Nuraidah berencana akan membentuk biro-biro perempuan bagi para buruh perempuan, agar dapat muncul ke permukaan permasalahan-permasalahan bagi buruh perempuan selama ini, yang hanya sebagai gunung es.

Wau
Buruh perempuan usai penyuluhan oleh Industri All Global di Medan