Buruh DKI Jakarta, menggelar aksi pra mogok nasional (Senin, 28 Oktober 2013) | Foto: Maxie
Buruh DKI Jakarta, menggelar aksi pra mogok nasional (Senin, 28 Oktober 2013) | Foto: Maxie

Pra kondisi mogok nasional yang dilakukan mulai tanggal 28 Oktober 2013, berjalan serentak hampir diseluruh wilayah. Perkembangan ini tentu sangat membanggakan. Setidaknya semakin membuat kita menjadi percaya diri, bahwa “people power”, sebagai prasyarat terjadinya perubahan yang fundamental bisa dilakukan.

Sebaliknya, bagi pemerintah dan pihak-pihak yang terkait dengan tuntutan kaum buruh, ini menjadi lampu kuning. Suara-suara perubahan itu sudah tak bisa dibendung. Sudah saatnya keberadaan kaun buruh dianggap penting, dan oleh karenanya apa yang menjadi tuntutan mereka selayaknya diperhatikan dengan serius. Apalagi, dukungan terhadap mogok nasional ini terus mengalir, baik dari kalangan mahasiswa, berbagai LSM, dan kelompok-kelompok yang lain.

Sekali lagi, aksi 28 Oktober 2013 kemarin baru menjadi semacam pemanasan awal. Meminjam istilah Presiden FSPMI Said Iqbal, kemarin itu adalah sebagai pra kondisi mogok nasional. Tak berhenti sampai disini, karena pra kondisi mogok nasional akan berlangsung hingga tanggal 31 Oktober 2013, dan puncaknya pada tanggal 31 Oktober 2013 nanti.

Meskipun baru pra kondisi, dahsyatnya mulai terasa. Seperti diberitakan oleh Pro 3 RRI, Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia mencatat buruh yang mogok tersebar di 50 kota pada 15 provinsi.

“Ada 15 provinsi, 50 kota. Ada yang kawasan industri dan di luar industri dan ini yang harus kita antisipasi,” kata  Kepala Badan Pemeliharaan dan Keamanan, Komjen Pol Badrodin Haiti kepada Pro 3 RRI, Senin (28/10/2013).

Seperti biasa, pihak kepolisian mengimbau agar aksi mogok tidak dilakukan dengan turun ke jalan dan berubah menjadi anarkis. Untuk mengamankan aksi mogok nasional yang dilakukan oleh buruh, polisi mengerahkan 32.000 personel kepolisian. Personil kepolisian akan disiagakan di gedung-gedung vital seperti Dewan Perwakilan Rakyat, Istana Merdeka dan kantor pemerintahan.

Kita sepakat dengan itu. Aksi buruh harus damai. Tak boleh anarkis. Sebaliknya, buruh juga meminta kepada pihak kepolisian untuk melihat dari dua sisi. Jangan hanya buruh yang diminta untuk tidak anarkis, tetapi amankan juga pihak-pihak tertentu yang memprovokasi terjadinya tindakan anarkis. Seperti yang terjadi di Bekasi, misalnya. Konvoi buruh yang damai itu dihadang preman, mereka memprovokasi keributan, namun polisi melakukan pembiaran.

Apapun itu, buruh akan tetap fokus terhadap tuntutannya. Tak mau terpancing untuk menanggapi mereka. Justru hal itu memberikan kepercayaan baru, bahwa persatuan adalah keniscayaan. Bahwa mogok nasional dan menghentikan produksi secara total, lebih ‘mematikan’ ketimbang menanggapi provokasi murahan. (Kascey)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *