Jangan beri aku sejuta kilah untuk tidak berbuat sesuatu. Beri aku satu alasan saja, untuk mengerjakan apa yang aku bisa.

Sumber Foto: Internet

Sumber Foto: Internet

Beberapa hari yang lalu, saya berbincang dengan seorang pengurus serikat pekerja yang jarang sekali mengikuti kegiatan organisasi. Saya ingatkan komitment awal ketika membangun organisasi. Banyak mimpi yang kita rangkai, dan itu harus diwujudkan.

Tetapi sesaat kemudian saya tertegun. Diluar dugaan saya, ternyata ia memiliki banyak sekali alasan terkait dengan ketidakaktifannya: sering lembur, ada urusan keluarga, dilarang istri, males, di serikat nggak ada duitnya…

“Banyak yang hidupnya lebih susah dari Anda, tetapi mereka bisa tetap aktif dalam serikat. Bisa membagi waktu antara kerja, keluarga, dan organisasi,” ujar saya.

Sudah saya duga, ia memiliki jawaban tersendiri untuk membenarkan apa yang menjadi keputusannya. Saya hargai itu.

Hanya saja, yang sulit saya pahami, ia sering mengkritik kerja kawan-kawannya yang aktif dalam kegiatan serikat. Barangkali benar, semakin banyak berbuat, semakin banyak potensi kesalahan yang kita lakukan. Tetapi bukannya lantas yang tidak melakukan apa-apa terbebas dari yang namanya salah. Sebab, sikap diamnya itu pun adalah sebuah kesalahan.

Dalam titik itulah, kalimat ini menemukan relevansinya: Jangan beri aku sejuta kilah untuk tidak berbuat sesuatu. Beri aku satu alasan saja, untuk mengerjakan apa yang aku bisa.

Ya, kalimat itu  memang untuk para pembual: yang hanya banyak omong tanpa melakukan kerja nyata. Untuk mereka yang merasa paling benar sendiri ketika menyalahkan orang lain, tetapi dirinya sendiri tidak mengimplementasikan apa yang dianggapnya benar itu. Untuk mereka yang terlalu sering menunda-nunda sesuatu yang bisa dikerjakannya sekarang. Terkadang, bahkan, terlalu banyak alasan hanya untuk tidak melakukan apa-apa.

Semoga kita termasuk dalam kelompok orang-orang yang ikhlas dalam berjuang. Yang selalu mempertanyakan pada diri sendiri tentang konstribusi apa yang bisa kita berikan untuk perbaikan negeri ini. (kascey)

Categories: Opini

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *