“Awak Kabin Lufthansa di Jerman Saja Berani Mogok Kerja, Masak Buruh Indonesia Tidak Berani Melakukannya?”

Bergerak menuju Istana Negara
Buruh menutut PP 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan dicabut.

Banyak orang beranggapan, pemogokan merupakan hal yang tabu untuk dilakukan. Saya sendiri sering mendengar, ada banyak kalimat bernada menghujat terhadap buruh yang terlibat dalam mogok kerja. Berikut adalah beberapa diantaranya: Mogok hanyalah cara buruh-buruh yang berpendidikan rendah untuk memaksakan kehendaknya. Buruh yang suka mogok itu ciri-cirinya malas bekerja, tetapi selalu ingin gaji tinggi. Buruh yang mogok itu tak tahu diri. Sudah untuk bekerja, tetapi banyak maunya.

Menurut mereka, buruh yang cerdas, berpendidikan dan memiliki martabat, selalu menyelesaikan permasalahan melalui meja perundingan. Tetapi, sayangnya, mereka yang menasehati agar buruh mengedepankan perundingan, tidak pernah mewakili buruh untuk berunding dengan penguasa atau pengusaha. Jika pernah, saya rasa pandangan mereka akan berubah.

Hal terpenting dalam perundingan adalah kesetaraan. Para pihak berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Dengan kata lain, para pihak berada dalam posisi yang setara. Jika hal sederhana seperti ini saja tidak terpenuhi, sulit rasanya perundingan akan menghasilkan sesuatu yang diharapkan. Realitanya, ada banyak wakil buruh yang ketika berunding kemudian di PHK. Berapa banyak perundingan hanya sekedar formalitas, karena kemudian tuntutan buruh tidak didengar dan selalu diabaikan?

Buat apa ada perundingan jika buruh selalu diposisikan sebagai pihak yang harus mengalah? Jika adil, pada saat mengatakan agar buruh jangan egois dan mau menang sendiri. Pada saat yang sama, seharusnya kepada penguasa dan pengusaha juga disampaikan pernyataan yang sama.

“Hei, pengusaha. Dengarkan juga aspirasi buruh. Jangan hanya mengejar keuntungan besar, tetapi lupa mensejahterakan orang-orang yang rela meninggalkan keluarga dan bercururan keringat demi perusahaanmu berproduksi,” seharusnya pernyataan seperti ini juga sama banyaknya dengan kalimat-kalimat menggurui untuk buruh. Jika perlu, ditambahkan, “Masih untung ada buruh yang mau bekerja di perusahaanmu. Kalau tidak, sampai mampus mesin-mesin di pabrik itu tidak akan ada yang mengoperasikannya.”

Maka, dimana-mana pemogokan selalu menjadi jalan terakhir. Rasanya tidak pernah terjadi, tanpa angin dan badai yang mendahului, buruh kemudian melakukan mogok kerja.

Apakah mogok kerja hanya dilakukan oleh buruh di Indonesia yang katanya bodoh dan berpendidikan rendah itu? Saya rasa tidak! Mogok kerja adalah hak buruh yang paling fundamental dan diakui diseluruh dunia.

Bacalah berita. Baru-baru ini, awak kabin dari maskapai terbesar Jerman, Lufthansa, juga melakukan mogok kerja. Pemogokan ini dipicu karena tidak adanya kesepakatan antara perusahaan Lufthansa dengan serikat pekerja soal pesangon pensiun maupun pensiun dini.

Akibat pemogokan itu, maskapai penerbangan Lufthansa terpaksa harus membatalkan sejumlah penerbangan domestik dan Eropa, dari Frankfurt dan Dusseldorf pada hari Senin, tanggal 9 November 2015. Sebanyak 929 penerbangan dibatalkan dari 3.000 penerbangan yang dijadwalkan hari ini. Kurang lebih sebanyak 113 ribu penumpang yang akan bepergian menjadi terganggu. Menurut analis dari Equinet Jochen Rothenbacher, akibat aksi mogok tersebut Lufthansa dapat mengalami kerugian sekitar 20 miliar euro dalam sehari. Rothenbacher mencatat, sepanjang tahun ini Lufthansa sudah mengalami kerugian sebesar 130 miliar euro akibat aksi mogok awak kabin.

Tak bisa dipungkiri, akan selalu ada yang dirugikan dalam sebuah pemogokan. Mengambil contoh Lufthansa, kalau saja tidak ingin rugi, maskapai ini seharusnya mendengarkan aspirasi serikat pekerja. Begitulah seharusnya kesetaraan itu dilakukan. Saling menjaga.

Hal yang sama, di Indonesia. Apa susahnya pemerintah mencabut PP Pengupahan? Toh tentang kenaikan upah minimum sudah diatur sedemikian rupa, dan selama ini mampu mengakomodir kepentingan semuanya. Jika permintaan sesederhana ini saja tidak dipenuhi, maka hal yang sangat wajar jika buruh Indonesia melakukan mogok nasional. Sebagaimana buruh Lufthansa melakukan pemogokan, mengakibatkan ratusan ribu penumpang terlantar. Perusahaan rugi puluhan miliar. Jika buruh Indonesia melakukannya, maka roda ekonomi akan terhenti, dan kerugian besar menanti.

Memang terkesan tidak masuk akal. Tetapi lebih tidak masuk akal lagi, jika buruh masih duduk di meja perundingan, ketika jelas-jelas tuntutannya tidak sedikitpun akan dipenuhi.

Mungkin akan ada yang bilang, hanya buruh bodoh dan malas bekerja yang melakukannya. Tetapi menjadi lebih bodoh lagi, jika tahu akan dimiskinkan secara sistematis, tetapi hanya diam dan tidak melawan.

Lufthansa saja, yang notabene perusahaan penerbangan terbesar di Jerman mogok kerja. Kita tahu, Jerman adalah Negara di Eropa yang menggaji buruh-buruhnya dengan baik. Masak buruh-buruh di Indonesia akan diam saja melihat pemerintahan yang sekarang tidak berpihak kepada rakyatnya?

“Awak Kabin Lufthansa di Jerman Saja Berani Mogok Kerja, Masak Buruh Indonesia Tidak Berani Melakukannya?”(*)

Oleh: Kahar S. Cahyono