(GETTY IMAGES/MATT CARDY ) Suasana pergudangan milik ritel online terbesar, Amazon, di lantai dasar perusahaan yang didirikan pada tahun 1994 dan bermarkas di Seattle, Washington, Amerika Serikat (AS).

GETTY IMAGES/MATT CARDY
Suasana pergudangan milik ritel online terbesar, Amazon, di lantai dasar perusahaan yang didirikan pada tahun 1994 dan bermarkas di Seattle, Washington, Amerika Serikat (AS).

Di Jepang saat ini sedang terkenal istilah Black Kigyo, perusahaan yang memeras tenaga kerjanya, seperti kerja rodi, kerja melebihi jam yang telah ditentukan peruaturan tenaga kerja dan bahkan lembur tidak dibayar. Kini terungkap Amazon, raksasa ritel online ini pun melakukan demikian seperti Black Kigyo Jepang.
“Staf Amazon dipekerjakan di bawah luar biasa tekanan, seperti kamp budak kondisi mereka, dengan karyawan di gudang mereka harus berjalan 11 mil dalam satu shift (pergantian) dan mengumpulkan perintah setiap 33 detik ,” demikian hasil penyelidikan yang dituliskan koran Huffington Post di Inggris, Senin (25/11/2013) lalu.

Hasil penyelidikan dilakukan BBC dalam kondisi kerja di gudang Amazon  yang menemukan bahwa tingkat tekanan kerja staf yang bekerja di bawah, dapat menyebabkan penyakit mental dan fisik. Satu karyawan gudang mengatakan kepada BBC bahwa kondisi yang dialaminya seperti di dalam kamp budak saja.
Ahli stres, Profesor Michael Marmot, mengatakan staf Amazon menderita semua hal-hal buruk sekaligus menambahkan, “Karakteristik dari jenis pekerjaan, bukti-bukti menunjukkan peningkatan risiko penyakit mental dan penyakit fisik ”

Mereka melakukan pekerjaan kasar. “Tetapi kita bisa membuat mereka lebih baik atau lebih buruk dan menurut saya tuntutan efisiensi pada biaya kesehatan individu dan kesejahteraan harus seimbang.” katanya.
Penyelidikan  dilakukan  Adam Littler (23) reporter BBC, menyamar masuk ke dalam Amazon, mendapatkan pekerjaan dari agen sebagai “picker” di gudang Amazon di Swansea  yang memiliki luas 800 ribu kaki persegi sebagai tempat penyimpanan .

Littler diberikan handset dan mengatakan kepadanya apa yang harus dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam troli, memberinya sejumlah set detik untuk menemukan setiap produk saat menghitung mundur. Pemindai (scanner) berbunyi jika ada kesalahan yang dibuat .

“Kami adalah mesin, kita adalah robot, kita pasang scanner kami lalu memegangnya, tapi kami mungkin juga akan memasukkan ke dalam diri kita sendiri ,” katanya .

“Kami tidak berpikir untuk diri kita sendiri, mungkin mereka tidak mempercayai kami secara kemanusiaan, saya tidak tahu,” demikian isi laporan Littler.

Scanner Littler yang dilacak barang ke tingkat tertentu dan jika itu terlalu rendah, dia diberitahu bahwa dia akan menjalani disiplin yang dilakukan mesin tersebut dengan alarm.

Setelah bekerja shift malam setengah jam, ia mengatakan,” Saya berhasil berjalan setengah pincang atau dengan jarak hampir sebelas kilometer  tadi malam.  Benar-benar hancur kaki saya rasanya, jelas ini adalah hal yang paling mengganggu saya, jujur saja,” paparnya.

“Kita semua benar-benar bekerja banting tulang dan sepertinya tidak akan ada imbalan. Rasanya saya belum pernah melakukan pekerjaan seperti ini sebelumnya. Tekanan kerja yang sangat luar biasa,” jelasnya.
Seorang juru bicara Amazon mengatakan, “Keselamatan rekan kami adalah prioritas nomor satu  dan kami mematuhi semua peraturan dan hukum ketenagakerjaan sesuai hukum dan kesehatan dan keselamatan. Bagian hukum  independen meninjau proses kami sebagai metode lebih lanjut untuk memastikan kepatuhan.”

“Amazon telah mempertahankan seorang ahli independen yang telah mengunjungi bangunan  dan rekan kerja yang ada. Menurut pendapat ahli independen, peran picking mirip dengan pekerjaan di industri lainnya dan tidak meningkatkan risiko penyakit mental dan fisik, “tambah jubur Amazon itu lagi.

“Seperti kebanyakan perusahaan, kami memiliki harapan kinerja. Produktivitas target ditetapkan secara obyektif, berdasarkan tingkat kinerja sebelumnya dicapai oleh tenaga kerja kami. Beberapa posisi di pusat-pusat pemenuhan kami menuntut secara fisik, sebenarnya kita membuat jelas keterangan di dalam semua lowongan pekerjaan yang relevan di dalam proses perekrutan kami. Beberapa rekan mencari posisi ini karena mereka menikmati alam aktif dari pekerjaan. Kami memiliki peran kurang menuntut fisik bagi rekan kerja yang akan memilih hal itu, tambahnya.

http://www.tribunnews.com/internasional/2013/11/28/ritel-online-amazon-diduga-perlakukan-karyawannya-tidak-manusiawi


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *