Aji: “Berserikat Bukan Sekedar Menghitung Untung dan Rugi”

Saya percaya, tidak ada permasalahan yang tak bisa diselesaikan. Dari sekian banyak pintu yang tertutup, akan selalu ada pintu yang terbuka. Daripada terpaku pada pintu-pintu yang terunci itu, bukankah akan lebih baik jika kita melangkah dari pintu yang masih terbuka? Itulah jalan keluarnya. Jika pun tidak ada, pasti ada jendela disana.

Aji 3

Semangat itulah yang harus kita jaga. Semangat untuk mencari solusi sebagai jalan keluar, bukan memperdebatkan siapa salah siapa benar. Dan ketika kali ini saya membicarakan kendala yang dihadapi saat mengorganisir kaum buruh, adalah dalam rangka memberikan sumbangsih pemikiran untuk menyelesaikan permasalahan yang kita hadapi.

Mayoritas dari anggota melihat serikat pekerja dari sisi untung – rugi. Menjadi anggota serikat pekerja seperti ketika kita sedang berbisnis. ”Saya sudah bayar COS, maka apa yang saya dapatkan dari organisasi ini?”

Pemahaman itulah yang sering kita temui. Memang, tidak ada yang salah dari pemahaman itu. Ketika kita berserikat, sudah selayaknya jika harus ada manfaat yang didapat.  Tetapi menjadi salah, jika kemudian kita menggantungkan pada orang lain. Karena merasa sudah membayar iuran, hanya selesai disitu. Tidak turun aksi, tidak bersolidaritas, tidak mengikuti kegiatan organisasi.

Padahal menjadi anggota serikat pekerja tidak hanya sekedar membayar iuran. Serikat pekerja bukan koperasi, yang setiap tahun harus membukukan laporan untung-rugi. Serikat pekerja adalah perjuangan bersama, agar cita-cita untuk meningkatkan kesejahteraan bagi pekerja dan keluarganya bisa kita wujudkan. Dibutuhkan partisipasi dari anggota  untuk bekerja demi organisasi ini sesuai dengan porsi dan kemampuan masing-masing.

Supaya mereka memiliki pemahaman yang utuh atas organisasi ini, solusinya adalah dengan terus menerus melakukan sosialisasi dan konsolidasi. Selain itu kita harus selalu menunjukkan upaya-upaya dan hasil positif yang dicapai oleh Serikat Pekerja. Hal ini dimaksudkan agar kepercayaan diri anggota tetap terjaga, karena mereka memiliki pemahaman yang utuh bahwa memang ada manfaat yang didapat ketika kita berserikat.

Sebagai orang yang ikut terlibat sejak awal pendirian FSPMI, saya menaruh harapan besar terhadap organisasi ini. Semoga FSPMI bisa istiqomah digaris perjuangan kaum buruh.

Perjuangan FSPMI harus melintasi generasi. Tidak boleh berhenti. Oleh karena itu, saya berpendapat, organisasi ini membutuhkan sebuah tim yang bekerja untuk melakukan penelitian dan pengembangan organisasi. Sehingga kita bisa menyikapi berbagai permasalahan ketenagakerjaan dengan cepat, termasuk didalamnya menyiapkan organisasi ini agar bisa selalu mengikuti perkembangan zaman.

Saat ini kita lebih fokus pada kajian lapangan. Lebih pada hal-hal yang bersifat reaksi terhadap apa yang sedang terjadi. Sehingga seringkali kita mengulang dari awal, untuk sesuatu yang sebenarnya pernah kita lakukan.

Saya ambil contoh, tentang perjuangan kita menghapuskan outsourcing. Saya beranggapan kita masih belum fokus. Sehingga dalam penyelesaian kasus, khususnya menyangkut buruh outsourcing, menjadi kurang cepat.

“Dari hari ke hari, FSPMI harus selalu menjadi lebih baik. Buat saya ini adalah harga mati.”

Ketika saya menyebut FSPMI, itu artinya saya sedang menyebut kita semua. Menyebut Anda. Juga pribadi saya. Sehingga tanggungjawab untuk mewujudkan semua itu berada dipundak kita. Termasuk didalamnya adalah untuk mensukseskan ‘Gerakan Buruh Pilih Buruh’ yang saat ini sedang kita jalani bersama. Semoga, dengan kebersamaan kita, cita-cita pekerja akan lebih dekat untuk bisa diwujudkan. (kascey)

 

Berita Terkait:

Aji: “Karena Hidup Harus Bermakna”

Aji: “Kita Memang Harus Berpolitik?”

Aji: “Berserikat Bukan Sekedar Menghitung Untung dan Rugi”

3 Comments on “Aji: “Berserikat Bukan Sekedar Menghitung Untung dan Rugi””

  1. “Dari hari ke hari, FSPMI harus selalu menjadi lebih baik. Buat saya ini adalah harga mati.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *